Ketegangan Memanas, Tokyo Minta Iran Pastikan Selat Hormuz Aman dan Bebas Pungutan

Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali menempatkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz sebagai isu mendesak. Jepang kini meminta Iran memberi kepastian bahwa kapal internasional dapat melintas dengan aman tanpa pungutan biaya tambahan.

Desakan itu disampaikan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon pada Rabu (12/8). Tokyo memandang kelancaran jalur tersebut penting bagi perdagangan energi dan pelayaran dunia.

Permintaan Jepang muncul setelah aksi saling serang antara AS dan Iran pada 8 hingga 24 Juli 2026. AS menyerang wilayah Iran, sedangkan Iran membalas dengan serangan terhadap aset militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Situasi itu memperberat kebuntuan dalam pembicaraan mengenai jaminan keamanan navigasi. Isu akses kapal di Selat Hormuz kembali menjadi salah satu pokok pembahasan utama dalam diplomasi regional.

Jalur Penting bagi Pelayaran Internasional

Takaichi meminta Pezeshkian memberikan jaminan atas pelayaran yang bebas dan aman. Ia menekankan bahwa Selat Hormuz tidak hanya menyangkut hubungan bilateral Jepang dan Iran.

Jalur tersebut digunakan oleh komunitas internasional untuk pelayaran dan perdagangan energi. Karena itu, Jepang menolak kemungkinan adanya beban biaya tambahan bagi kapal yang melintas.

Dalam unggahan di X, Takaichi menyatakan, “Selat Hormuz harus terus terbuka untuk pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan.” Ia juga menyerukan de-eskalasi militer di kawasan.

Jepang meminta pembahasan tentang keamanan navigasi melibatkan negara-negara pengguna jalur laut tersebut. Takaichi berharap Iran meneruskan dialog dengan pihak-pihak terkait untuk menjaga selat tetap terbuka.

WaktuPeristiwaPihak
17 Juni laluNota kesepahaman perdamaian ditandatanganiAS dan Iran
8-24 Juli 2026Serangan dan balasan seranganWashington dan Teheran
Rabu (12/8)Telepon soal keamanan pelayaranTakaichi dan Pezeshkian

Iran Menyebut Dialog dengan Oman

Pezeshkian menjelaskan kepada Takaichi bahwa dialog mengenai Selat Hormuz sedang berjalan dengan Oman. Media Indonesia melaporkan penjelasan itu sebagai tanda bahwa pengaturan jalur tersebut masih dibicarakan.

Di sisi lain, Takaichi mendorong Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan. Ia menyarankan Memorandum Islamabad digunakan sebagai rujukan untuk mempercepat kesepakatan akhir.

Usulan Jepang turut menyentuh penyelesaian isu nuklir yang telah lama tertunda. Perundingan AS-Iran sebelumnya sempat menunjukkan kemajuan setelah nota kesepahaman perdamaian pada 17 Juni lalu.

Namun, perselisihan mengenai jaminan keselamatan navigasi kemudian menghambat proses itu. Kebuntuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pelayaran dan diplomasi keamanan masih saling berkaitan.

Tekanan pada Situasi Bab Al-Mandeb

Tokyo tidak hanya membahas Selat Hormuz dalam komunikasi tersebut. Jepang juga menyoroti Selat Bab Al-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah yang penting bagi stabilitas pelayaran kawasan.

Takaichi mendesak Iran menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok Houthi di Yaman agar menahan diri dari tindakan yang dapat mengganggu stabilitas. Pezeshkian mengatakan jalur dialog untuk isu itu telah ditempuh, termasuk melalui komunikasi dengan Arab Saudi.

Selain masalah maritim, Takaichi meminta penyelesaian segera perkara hukum seorang warga Jepang di Iran. Warga Jepang itu telah dibebaskan dengan jaminan pada April lalu.

Pembicaraan tersebut memperlihatkan upaya Jepang menghubungkan stabilitas dua selat strategis dengan perundingan regional yang lebih luas. Fokusnya tetap pada keselamatan kapal, keterbukaan akses, dan pencegahan peningkatan konflik.

Baca Juga