Blokade Disebut Efektif, Trump Dorong Gagasan Selat Hormuz Masuk Wilayah AS

Donald Trump mendorong gagasan agar Selat Hormuz dinyatakan sebagai bagian integral dari wilayah Amerika Serikat. Presiden AS itu mengaitkan usulannya dengan blokade yang menurutnya telah menempatkan Washington dalam kendali atas jalur air tersebut.

Trump mengatakan operasi itu membuat selat tetap terbuka dan arus minyak terus berjalan. Ia menilai kondisi tersebut ikut berkaitan dengan penurunan harga minyak, meski AS disebut masih dapat mengambil tindakan yang lebih drastis.

“Kami mengeluarkan jutaan barel minyak per minggu … selat itu terbuka, dan harga minyak turun,” kata Trump. Ia tidak merinci langkah lanjutan yang mungkin ditempuh apabila Washington memilih tindakan lebih keras.

Usulan Status Baru untuk Selat Hormuz

Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump menyebut kemungkinan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS sebagai gagasan yang baik. “Saya memang berpikir itu ide yang bagus,” ujarnya saat dimintai penjelasan.

Ia kemudian menegaskan kembali pandangannya tentang kontrol Washington di kawasan tersebut. “Kami mengendalikan (Selat Hormuz) melalui blokade, dan saya menyukai gagasan untuk menyatakannya sebagai wilayah (AS),” kata Trump.

Pada Jumat, Trump juga menyatakan akan segera menetapkan selat itu sebagai wilayah AS. Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam fase konfrontatif.

Serangan Berbalas di Timur Tengah

Konflik AS-Iran meningkat setelah Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang dicapai pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku. Setelah pernyataan itu, militer AS melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran.

CENTCOM menyebut serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di sejumlah wilayah Timur Tengah.

Teheran pada saat yang sama kembali menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata. Situasi itu memperlihatkan bahwa upaya perundingan berjalan beriringan dengan aksi militer dari kedua pihak.

Perselisihan di Selat Hormuz memiliki arti penting karena berkaitan dengan pelayaran komersial dan pergerakan minyak. Karena itu, klaim penguasaan atas jalur tersebut berpotensi memperbesar tekanan dalam hubungan AS dan Iran.

Perundingan Belum Menyatukan Sikap

Washington dan Teheran disebut berupaya membahas ketentuan baru untuk mengakhiri konflik dalam beberapa pekan terakhir. Viva melaporkan mediator dari Timur Tengah membantu proses perundingan tersebut.

Namun, pembicaraan belum mengakhiri perbedaan posisi kedua negara. Trump pada 9 Agustus mengatakan Washington bernegosiasi dengan Teheran secara setengah hati, sambil menyebut ekonomi Iran semakin memburuk.

Di tengah belum tuntasnya perundingan, Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama sengketa. Jalur ini tidak hanya terkait keamanan kapal dagang, tetapi juga menjadi bagian dari klaim politik dan strategi militer yang saling dipertentangkan.

Gagasan Trump mengenai status wilayah selat tersebut memperkeras nada Washington dalam menghadapi Iran. Perkembangannya kini bergantung pada dinamika operasi di kawasan dan keberlanjutan pembicaraan yang masih berlangsung.

Baca Juga