Aktivitas industri nasional masih berada di zona ekspansi pada Juli 2026. Tiga indikator utama mencatat nilai di atas 50, menandakan optimisme pelaku usaha dan kegiatan manufaktur tetap terjaga.
Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur berada pada 52,31. PMI Manufaktur Indonesia tercatat 50,2, sedangkan Indeks Kepercayaan Industri mencapai 53,10.
| Indikator Industri | Nilai Juli 2026 | Status |
|---|---|---|
| Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur | 52,31 | Ekspansi |
| PMI Manufaktur Indonesia | 50,2 | Ekspansi |
| Indeks Kepercayaan Industri | 53,10 | Ekspansi |
Angka di atas 50 pada ketiga indikator menggambarkan aktivitas industri yang terus tumbuh. Data tersebut juga memperlihatkan keyakinan pelaku industri terhadap prospek usaha masih bertahan.
Pemerintah didorong menjaga momentum tersebut melalui kepastian usaha dan penguatan pasar domestik. Peningkatan investasi serta iklim industri yang kompetitif juga menjadi bagian dari kebutuhan sektor ini.
Pertumbuhan Melampaui Laju Ekonomi
Di tengah indikator yang ekspansif, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% secara tahunan pada triwulan II-2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menunjukkan manufaktur tetap memiliki daya dorong yang kuat terhadap perekonomian. Sektor pengolahan juga mempertahankan perannya sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto.
Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB mencapai 18,50% pada periode tersebut. Sektor ini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan sumbangan 0,90%.
Posisi tersebut menegaskan manufaktur memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar sektor pendukung. Penguatan industri menjadi penting untuk memperbesar nilai tambah dan kesempatan kerja di dalam negeri.
Kelompok Industri dengan Pertumbuhan Positif
Sejumlah subsektor strategis mencatat pertumbuhan positif sepanjang triwulan II-2026. Industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik menjadi kelompok dengan pertumbuhan tertinggi dari subsektor yang disebutkan.
Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51% secara tahunan. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional membukukan pertumbuhan 4,99% pada periode yang sama.
| Subsektor | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|
| Industri makanan dan minuman | 6,51% |
| Industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik | 8,04% |
| Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional | 4,99% |
Variasi pertumbuhan ini memperlihatkan penguatan manufaktur berlangsung di sejumlah bidang produksi penting. Kinerja tersebut dapat memperluas basis industri sekaligus mendukung daya saing nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian manufaktur menunjukkan dampak konkret dari keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap industri. Pernyataan itu dikutip dari laman Kementerian Perindustrian pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
“Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Agus Gumiwang.
Kementerian Perindustrian melanjutkan penguatan melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional atau SBIN. Strategi tersebut mencakup penguatan struktur industri, hilirisasi, produktivitas, daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.






