Bulog memilih menempatkan cadangan beras langsung di bandara dan pelabuhan Kupang untuk mempercepat bantuan bagi warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Langkah ini membuat logistik dapat segera dikirim ketika kebutuhan pangan dilaporkan dari lapangan.
Setiap hari, 10 ton beras disiagakan di Bandara Kupang dan 10 ton lainnya di Pelabuhan Kupang. Ketersediaan di titik keberangkatan menjadi penting karena proses pengiriman tidak perlu menunggu penarikan stok dari gudang.
Dua Simpul untuk Respons Darurat
Bandara disiapkan untuk mendukung pergerakan cepat melalui jalur udara, sementara pelabuhan menopang pengiriman melalui laut. Kedua lokasi tersebut menjadi bagian dari pola distribusi berlapis yang disusun untuk menghadapi perubahan akses pascagempa.
Bulog menilai kondisi infrastruktur dapat berubah dalam waktu singkat akibat kerusakan jalan dan longsor. Karena itu, ketersediaan pangan dekat sarana angkutan memberi ruang untuk menentukan moda pengiriman yang paling memungkinkan.
| Lokasi | Kesiapan Harian | Moda yang Didukung |
|---|---|---|
| Bandara Kupang | 10 ton beras | Angkutan udara |
| Pelabuhan Kupang | 10 ton beras | Angkutan laut |
| Akses jalan rusak | Motor diprioritaskan | Angkutan darat jarak dekat |
Ketika Mobil Tidak Bisa Masuk
Di sejumlah wilayah, kerusakan jalan membuat kendaraan roda empat tidak dapat digunakan untuk mengantar bantuan. Dalam situasi itu, sepeda motor diprioritaskan untuk melewati jalur darat yang masih dapat dilalui.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pemilihan moda transportasi harus menyesuaikan hambatan akses di lapangan. “Strategi kami, karena memang di sana banyak jalan longsor, jadi kami lebih menggunakan prioritas untuk yang pertama kendaraan sepeda motor,” kata Rizal di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
Motor ditempatkan sebagai pilihan awal untuk menjangkau lokasi yang terisolasi dari kendaraan besar. Bila rute darat tertutup sepenuhnya, Bulog menyiapkan pengalihan bantuan melalui jalur laut atau udara.
Armada BNPB Menjadi Opsi Lanjutan
Bulog telah melakukan koordinasi dengan BNPB, termasuk dengan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Koordinasi ini diperlukan untuk memanfaatkan armada angkutan apabila jalur menuju pengungsian terputus atau sulit ditembus.
Pengiriman melalui udara dan laut dapat digunakan sesuai kebutuhan serta kondisi akses di daerah terdampak. Skema tersebut melengkapi jalur darat, bukan menggantikannya secara otomatis.
Pasokan beras yang disiagakan di Kupang juga ditujukan untuk mendukung dapur umum selama masa tanggap darurat. Dengan demikian, kebutuhan pangan tidak hanya diarahkan untuk pembagian langsung kepada masyarakat terdampak.
Pola yang Pernah Digunakan Saat Bencana
Strategi mendorong stok ke simpul transportasi bukan pola baru bagi Bulog. Pendekatan serupa pernah digunakan saat penanganan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut VIVA, pengalaman tersebut menjadi dasar penilaian bahwa stok yang dekat dengan jalur pengiriman membuat distribusi lebih lentur. Bantuan dapat digerakkan segera saat kebutuhan mendadak muncul di lapangan.
Kesiapan Bulog di Kupang diharapkan menjaga distribusi beras tetap berjalan meski akses darat menghadapi hambatan. Kecepatan penyaluran selanjutnya akan ditentukan oleh kondisi infrastruktur dan koordinasi dengan unsur penanggulangan bencana.






