Dari Mendayung Sampan ke Kampus, Perjuangan Surni Raih Doktor di Usia 48 Tahun

Surni pernah mendayung sampan sekitar 15 menit agar dapat bersekolah dari permukiman laut menuju daratan. Kini perempuan kelahiran Mantigola, Wakatobi, itu telah menyandang gelar doktor dan menjadi Wakil Rektor II Bidang Nonakademik di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi.

Perempuan yang lahir pada 1977 tersebut disebut sebagai perempuan pertama suku Bajo di Indonesia yang bergelar S3. Ia menyelesaikan studi doktoral Ilmu Administrasi di Universitas 17 Agustus Surabaya dan diwisuda pada 2025.

Masa kecil Surni berlangsung di desa suku Bajo dengan rumah-rumah panggung di atas laut. Bila tidak ada sampan untuk perjalanan pulang, ia bahkan harus berenang.

Pendidikan pada masa itu belum mudah dijangkau banyak anak Bajo. Tradisi melaut serta kehidupan berpindah-pindah untuk mencari nafkah membuat sebagian warga tidak menamatkan sekolah dasar, sementara sejumlah teman sebayanya menikah pada usia dini.

Keputusan Meninggalkan Kampung

Setelah menamatkan SD, Surni mengambil keputusan untuk tinggal jauh dari orang tuanya demi meneruskan sekolah. Ia menetap bersama kerabat yang mengajar di SMP dekat Kaledupa karena sekolah berjarak sekitar lima kilometer jika ditempuh berjalan kaki.

Dukungan orang tua menjadi kekuatan penting dalam pilihannya untuk terus belajar. Mereka berharap pendidikan dapat membuka jalan hidup yang berbeda dari keterbatasan yang dihadapi keluarganya.

Surni kemudian merantau ke Baubau setelah lulus SMP dan masuk SMEA Negeri Baubau, sekolah kejuruan bidang ekonomi pada masa itu. Ia tinggal bersama seorang guru beserta keluarganya selama menempuh pendidikan.

Biaya sekolah tidak selalu tersedia dalam bentuk uang. Orang tuanya mengirim ikan kering dari kampung, lalu Surni menjualnya di Baubau untuk membantu membayar SPP.

Kuliah, Bekerja, dan Menjadi PNS

Pada 2000, Surni masuk Jurusan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Buton sebagai bagian dari angkatan pertama. Ia berharap pendidikan ekonomi dapat membantu memperbaiki kondisi keluarga dan membuka peluang kerja.

Perkuliahannya kemudian dipindahkan bersama mahasiswa lain ke Universitas Muhammadiyah Kendari karena status akademik kampus awal belum tersedia. Selama kuliah, ia bekerja di kantor Partai Golkar Kabupaten Buton dengan gaji sekitar Rp100.000 per bulan.

TahapTempat Studi atau KerjaPeristiwa Penting
SMPKaledupaTinggal bersama kerabat guru
SMEABaubauMendapat dukungan keluarga guru
S1Universitas Muhammadiyah Buton dan KendariBekerja sambil kuliah
S2Universitas HaluoleoAdministrasi Pembangunan
PNSWakatobiLulus seleksi pada 2006

Setelah memperoleh gelar Sarjana Ekonomi, Surni sempat maju sebagai calon anggota DPR. Dukungan suara dari masyarakat Bajo cukup tinggi, tetapi sistem nomor urut membuat calon yang berada di atas nomornya terpilih.

Pengalaman dalam politik membuatnya melihat masih adanya jarak sosial yang dirasakan sebagian warga Bajo ketika berinteraksi dengan kelompok masyarakat daratan. Hal itu memperkuat tekadnya untuk melanjutkan studi magister.

Surni lalu menyelesaikan S2 Administrasi Pembangunan di Universitas Haluoleo. Setelah itu, ia pulang ke Wakatobi, mengikuti seleksi PNS, dan dinyatakan lulus pada 2006.

Menguatkan Pendidikan Tinggi di Wakatobi

Surni bekerja di Badan Pendapatan Daerah Wakatobi sambil mengejar cita-cita sebagai pengajar. Bersama anggota Muhammadiyah, ia turut merintis sekolah di sekitar permukiman Bajo, termasuk lembaga pendidikan tinggi.

Sebelum ITBM Wakatobi berdiri, ia mempelajari pengelolaan kampus melalui Universitas Muhammadiyah Buton yang memiliki 750 mahasiswa. ITBM Wakatobi berdiri pada 2020 dan mulai menerima mahasiswa setahun kemudian.

Ketiadaan dosen bergelar doktor pada masa awal kampus berdiri menjadi dorongan bagi Surni melanjutkan S3. Setelah diwisuda, Dr. Surni, S.E., M.Si mengajar mata kuliah Kewirausahaan sambil menjalankan tugas sebagai wakil rektor.

Pendidikan yang ditempuhnya menjadi contoh bahwa keterbatasan akses tidak harus menghentikan langkah anak-anak dari permukiman laut. Surni kini mengabdikan pengalamannya untuk memperluas semangat belajar di Wakatobi.

Baca Juga