Kelas kalkulus di UC Berkeley kini menghadapi persoalan yang tidak biasa bagi kampus bergengsi tersebut. Sejumlah dosen harus menggunakan waktu perkuliahan untuk mengajarkan pecahan dan aljabar dasar kepada mahasiswa baru.
Zvezdelina Stankova, dosen matematika UC Berkeley, menyebut sebagian mahasiswa tertinggal lima hingga delapan tahun dalam kemampuan matematika. Ketertinggalan itu mengganggu pembahasan integral, persamaan diferensial, dan materi lanjutan lain.
Stankova menggambarkan dosen harus melayani mahasiswa dengan tingkat kesiapan yang sangat berbeda dalam satu kelas. Dalam situasi tertentu, penjelasan persamaan linear perlu diulang ketika kuliah seharusnya sudah memasuki materi yang lebih kompleks.
Ia menyampaikan kritik tersebut melalui opini yang dimuat The San Francisco Standard. “Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP,” ujar Stankova.
Angka kesiapan menurun setelah pandemi
Data tes diagnostik Kalkulus I memperlihatkan perubahan tajam pada tingkat kesiapan mahasiswa baru UC Berkeley. Dalam pengujian setelah pandemi, jumlah peserta bertambah tetapi persentase yang siap mengambil kalkulus justru berkurang.
| Periode | Jumlah Mahasiswa | Siap Kalkulus | Perkembangan |
|---|---|---|---|
| 2018–2020 | 2.200 | 71% | 0,14% di bawah aljabar dasar |
| 2021–2023 | 2.800 | 51% | Turun menjadi 44% pada 2023 |
Di sisi lain, 17 persen peserta tes tidak menjawab benar satu pun dari delapan topik yang diuji. Pada 2022–2023, lebih dari sepertiga mahasiswa dilaporkan mengalami kekurangan pemahaman matematika yang parah.
Nilai nol menjadi skor yang paling sering muncul dalam ujian tersebut, berdasarkan pemaparan Stankova. Temuan itu menunjukkan persoalan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kalkulus, melainkan juga kemampuan fondasional sebelum memasuki jenjang tersebut.
Desakan meninjau kembali kebijakan penerimaan
Stankova bersama ribuan dosen dari 10 kampus University of California mendesak peninjauan penggunaan SAT dan ACT dalam proses penerimaan mahasiswa. Lima peraih Nobel termasuk dalam kelompok yang mendukung langkah tersebut karena nilai tes dipandang dapat membantu mengukur kesiapan akademik.
Sistem University of California sebelumnya menghapus persyaratan SAT dan ACT secara bertahap sejak pandemi COVID-19. Dengan alasan kesetaraan, kebijakan itu juga melarang staf penerimaan memakai nilai ujian terstandar sebagai dasar seleksi.
Stankova membandingkan kebijakan UC dengan MIT, Stanford, Harvard, dan Yale yang kembali menerapkan persyaratan tes setelah pandemi. Menurutnya, evaluasi Senat Akademik UC baru ditargetkan selesai pada Juni 2027, sehingga perubahan paling cepat dapat berlaku pada musim gugur 2028.
Persoalan serupa tercatat di UC San Diego melalui laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions tertanggal 8 Januari 2026. Laporan itu menyebut jumlah mahasiswa dengan kemampuan matematika di bawah tingkat SMA meningkat hampir 30 kali lipat pada 2020–2025.
Sebanyak 70 persen dari kelompok mahasiswa UC San Diego itu berada di bawah tingkat SMP, atau sekitar satu dari 12 mahasiswa baru. Penurunan kesiapan juga disebut terlihat pada kemampuan menulis dan berbahasa, meski matematika menjadi bidang yang paling menonjol.
Menurut Stankova, seleksi tanpa nilai ujian berisiko menempatkan mahasiswa yang belum siap ke jurusan dengan tuntutan matematika tinggi seperti teknik. Pada saat yang sama, calon mahasiswa yang telah mengambil kalkulus dan pelajaran STEM dapat tidak diterima.






