Suara alam yang terdengar biasa dapat menjadi masalah ketika intensitasnya tinggi dan paparan berlangsung lama. Hal itu dialami Wang, remaja 18 tahun di China, yang pendengarannya sempat melemah setelah berkemah di tengah bunyi ratusan tonggeret.
Ia tidak lagi dapat mendengar kicauan burung maupun notifikasi dari ponselnya ketika suara serangga mulai berkurang. Wang juga merasakan telinga berdenging dan rasa penuh pada kedua telinganya.
Keluhan tersebut mendorong Wang segera memeriksakan diri ke rumah sakit karena khawatir kehilangan kemampuan mendengar. Dokter menemukan pembengkakan pada kedua telinganya.
Mengapa Suara Tonggeret Bisa Berisiko
Menurut dokter senior Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan Rumah Sakit Afiliasi No. 1 Universitas Ningbo, Li Ji, anggapan bahwa semua suara alam aman bagi telinga tidak selalu tepat. Risiko ditentukan oleh gabungan intensitas suara, jarak, dan durasi paparan.
Satu tonggeret umumnya menghasilkan suara yang tidak melebihi 70 desibel. Pada tingkat tersebut, bunyi seekor serangga biasanya belum cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan pendengaran.
Situasi berubah ketika ratusan serangga berbunyi bersama-sama dari lokasi dekat. Kebisingan gabungan dapat melampaui 85 desibel, ambang yang disebut meningkatkan risiko gangguan pendengaran.
| Sumber Bunyi | Intensitas yang Disebutkan | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Satu tonggeret | Umumnya hingga 70 desibel | Biasanya tidak cukup kuat merusak pendengaran |
| Ratusan tonggeret serempak | Dapat lebih dari 85 desibel | Risiko gangguan pendengaran meningkat |
Perubahan Sementara pada Koklea
Li Ji menjelaskan suara keras dalam waktu singkat dapat memicu edema pada sel rambut di koklea. Bagian telinga ini penting dalam menangkap suara, sehingga pembengkakan dapat membuat bunyi terdengar lebih redup atau tidak terdengar.
Pembengkakan sel rambut masih berpeluang pulih apabila orang tersebut segera menjauhi lingkungan bising. Waktu pemulihan yang disebutkan dokter berkisar satu hingga dua minggu.
Wang diminta menghindari suara keras setidaknya selama 14 hari dan menerima obat untuk meredakan pembengkakan. Setelah masa itu berlalu, pendengarannya kembali normal.
Waspada Kerusakan Permanen
Pemulihan Wang menunjukkan gangguan yang dialaminya masih dapat diperbaiki. Namun, Li Ji mengingatkan bahwa paparan lebih berat dapat menyebabkan sel rambut di koklea mengalami nekrosis.
Sel rambut yang telah mengalami nekrosis tidak dapat beregenerasi. Akibatnya, gangguan pendengaran dapat bersifat menetap dan pasien mungkin memerlukan alat bantu dengar.
“Jika sel-sel rambut tersebut mengalami nekrosis, mereka tidak dapat beregenerasi. Gangguan pendengaran yang diakibatkan hal ini bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan,” kata Li.
Wang berada di sebuah hutan di Ningbo, Provinsi Zhejiang, hingga sore meski menyadari suara di sekitarnya semakin keras. Kasus yang diberitakan Liputan6.com dengan mengutip Oddity Central itu menjadi pengingat bahwa suara tonggeret dalam jumlah besar tidak patut dianggap sepele.






