Setahun Ditinggal Mpok Alpa, Sherly Sebut Kehilangan Mama Paling Menghancurkan

Setahun setelah Mpok Alpa meninggal dunia, Sherly menyatakan rasa kehilangan terhadap ibunya masih terasa sama. Ia menyebut kepergian sang mama sebagai kehancuran paling besar yang pernah dialaminya.

Pengakuan itu disampaikan Sherly melalui unggahan pada akun Instagram @mrshrlynaaa. Ia mengatakan harus memaksa dirinya untuk ikhlas menjalani kehidupan sebagai piatu.

Rasa Sakit yang Tetap Tinggal

“1 tahun yang dipaksa untuk ikhlas. Sampai detik ini, sakitnya masih sama seperti saat pertama kali mendapat kabar bahwa Mama meninggalkan Sherly selamanya,” tulis Sherly.

Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa waktu belum menghapus kesedihan yang ia simpan. Sherly masih merasakan kuatnya kebutuhan akan kehadiran ibunya dalam hidupnya.

Ia mengenang beragam momen bersama Mpok Alpa yang terus hadir dalam keseharian. Kenangan itu membuat sosok sang ibu tetap terasa dekat meski telah setahun tiada.

“Tidak ada kehancuran yang paling hancur selain kehilangan Mama. Setiap hari Sherly selalu ingat semua momen bersama Mama,” lanjut Sherly dalam pesannya.

Beritasatu melaporkan bahwa Sherly merasa kehilangan itu datang ketika dirinya masih sangat membutuhkan sang mama. Perasaan tersebut menjadi salah satu alasan duka itu belum berubah hingga kini.

Perjalanan Hidup Setelah Kepergian Nina Carolina

Mpok Alpa memiliki nama asli Nina Carolina dan meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Sherly yang kemudian berusaha meneruskan hidup dengan menjaga kenangan sang ibu.

Salah satu tujuan yang ingin diwujudkan Sherly adalah menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Ia menempatkan cita-cita itu sebagai usaha untuk membahagiakan dan membuat ibunya bangga.

“Sekarang, di sini Sherly berusaha untuk membuat Mama bangga di sana. Sherly bakal menjadi sarjana,” tulisnya. Baginya, pencapaian akademik tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kelulusan.

Mpok Alpa disebut selalu menanyakan rencana wisuda putrinya. Antusiasme itu kini menjadi kenangan yang mengiringi tekad Sherly dalam menuntaskan pendidikan.

“Itu adalah momen yang paling Mama tunggu-tunggu. Mama selalu bertanya, kapan Sherly wisuda,” sambung Sherly. Ia menyadari wisuda nanti tidak akan lagi dihadiri oleh sosok yang paling menantikannya.

Merawat Kenangan dengan Doa

Dalam pesannya, Sherly meminta maaf karena dirinya masih kerap menangisi dan merindukan Mpok Alpa. Ia menyampaikan komitmen untuk tidak berhenti mengirimkan doa bagi sang ibu.

Ia juga merawat makam Mpok Alpa dengan membawa bunga-bunga agar tempat peristirahatan terakhir ibunya terlihat indah. Perawatan makam itu menjadi cara Sherly menunjukkan kasih sayangnya di tengah duka yang masih ia jalani.

Harapan menjadi sarjana, doa, dan perhatian kepada makam sang ibu menggambarkan cara Sherly menjaga hubungan emosional dengan Mpok Alpa. Semua itu dilakukan sambil berusaha menerima kehilangan yang menurutnya belum pernah benar-benar terasa ringan.

Baca Juga