Senator Demokrat Richard Blumenthal meminta penyelidikan resmi atas kondisi USS Abraham Lincoln setelah muncul laporan mengenai keterbatasan pasokan dan kontaminasi air. Permintaan itu memperbesar perhatian terhadap kesejahteraan awak kapal induk AS yang menjalani penugasan panjang di kawasan Teluk Oman.
Dalam surat bertanggal 12 Agustus 2026, Blumenthal meminta Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyelidiki persoalan tersebut. Ia menilai kondisi kapal dan personel perlu diperiksa di tengah tuntutan operasi militer yang berkelanjutan.
Blumenthal menyebut sejumlah masalah dilaporkan terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Selain keterbatasan pasokan dan kontaminasi air, ia menyinggung isu lain yang berpotensi memengaruhi keadaan kapal maupun personelnya.
Kesiapan armada dipertanyakan
Veteran Korps Cadangan Marinir AS itu mengaitkan persoalan di kapal dengan pemeliharaan, jadwal operasional, dan kesiapan tempur armada. Menurut Blumenthal, kemampuan Angkatan Laut AS dalam menjaga kapal tetap siap bertugas harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap kesejahteraan personel.
Sorotan ini muncul saat USS Abraham Lincoln menjalani penugasan berkepanjangan di sekitar Teluk Oman. Kapal tersebut menjadi bagian dari dua gugus tempur kapal induk AS yang beroperasi di kawasan.
Isu kesehatan mental awak turut muncul dalam laporan yang beredar. Beberapa personel disebut diduga mencoba melompat dari kapal induk di tengah persoalan kebersihan dan keselamatan yang juga disorot.
CENTCOM menolak klaim awak melompat
CENTCOM membantah pernyataan bahwa ada awak yang mencoba melompat dari USS Abraham Lincoln. Bantahan itu disampaikan melalui unggahan di platform X pada 13 Agustus 2026.
Presiden AS Donald Trump juga menepis kekhawatiran mengenai masa penugasan kapal tersebut. Dikutip The New York Times, Trump menyatakan masa tugas USS Abraham Lincoln ketika itu belum cukup lama.
Ketika mendapat pertanyaan mengenai kekhawatiran keluarga awak, Trump mengatakan keluarga tidak merasakan hal tersebut. Meski begitu, surat Blumenthal menegaskan bahwa persoalan kondisi personel masih menjadi perhatian di tingkat politik AS.
| Perkembangan | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Surat senator | 12 Agustus 2026 | Blumenthal meminta penyelidikan kondisi kapal dan awak. |
| Pernyataan CENTCOM | 13 Agustus 2026 | Membantah dugaan awak mencoba melompat dari kapal. |
| Laporan The New York Times | 14 Agustus 2026 | Mengulas gangguan pasokan dan persoalan di kapal. |
| Serangan di Bahrain | Awal perang | Mengubah pusat logistik yang digunakan AS. |
Dampak serangan ke Bahrain
Masalah pasokan di USS Abraham Lincoln tidak dapat dipisahkan dari perubahan jalur logistik setelah Iran menyerang pangkalan angkatan laut AS di Bahrain. Pangkalan itu sebelumnya digunakan sebagai pusat operasi logistik untuk mendukung serangan AS terhadap Iran.
Setelah serangan tersebut, operasi logistik dipindahkan ke pangkalan militer Inggris di Pulau Diego Garcia, Samudra Hindia. Langkah itu membuat distribusi kebutuhan bagi kapal perang AS harus melalui rute yang lebih panjang.
Diego Garcia berjarak lebih dari 3.500 kilometer dari dua gugus tempur kapal induk AS di Teluk Oman, menurut The New York Times. Jarak tersebut disebut menjadi salah satu hambatan dalam pengiriman pasokan bagi armada, termasuk USS Abraham Lincoln.
Perubahan pusat logistik memperlihatkan bagaimana serangan terhadap fasilitas darat dapat memengaruhi operasi kapal di laut. Di tengah bantahan CENTCOM atas isu kesehatan mental, penyelidikan yang diminta Blumenthal tetap menyoroti hubungan antara kelancaran pasokan, kondisi kapal, dan kesejahteraan awak.






