Reli IHSG yang membawa indeks ke atas 6.480 belum sepenuhnya menjamin kenaikan berlanjut. Pasar masih menunggu sikap Bank Indonesia terhadap BI Rate serta isi risalah rapat The Fed yang dapat memengaruhi pembacaan arah suku bunga.
Pada Selasa, 18 Agustus 2026, indeks sempat mencapai 6.482,57 pada akhir sesi I. Pada pukul 14.22 WIB, posisinya sedikit bergerak ke 6.476,61, tetapi masih mencatat kenaikan 1,17%.
Reli Didukung Partisipasi Saham Menguat
Penguatan indeks berlangsung dengan sebaran saham hijau yang lebih besar pada sesi I. Sebanyak 413 saham naik, sementara 235 saham turun dan 315 saham tidak berubah.
Momentum tersebut melanjutkan kenaikan tajam yang terjadi menjelang libur panjang Kemerdekaan RI. Pada penutupan 14 Agustus 2026, IHSG telah menguat 1,59% ke level 6.401,89.
| Periode | Level | Kenaikan |
|---|---|---|
| Penutupan 14 Agustus 2026 | 6.401,89 | 1,59% |
| Pukul 09.02 WIB | 6.470,45 | 1,07% |
| Akhir sesi I | 6.482,57 | 1,26% |
| Pukul 14.22 WIB | 6.476,61 | 1,17% |
6.455 Menjadi Batas Penting Setelah Dilewati
BRI Danareksa Sekuritas menilai indeks masih berada dalam struktur bullish jangka pendek. Technical Analyst Reza Diofanda menyebut posisi IHSG yang bertahan di atas MA20 membuka peluang untuk menguji area 6.455.
“Secara teknikal, IHSG masih berada dalam short-term bullish structure dan bertahan di atas MA20, sehingga peluang menguji 6.455 masih terbuka,” kata Reza dalam risetnya. Area tersebut menjadi perhatian setelah berhasil dilampaui, karena dapat menunjukkan apakah penguatan masih memiliki tenaga.
Jika breakout di atas 6.455 terkonfirmasi, Reza melihat target berikutnya berada pada 6.568 hingga 6.716. Adapun area support berada di rentang 6.200–6.280, dengan resistance penting sebelumnya pada 6.400–6.455.
MNC Sekuritas memproyeksikan peluang kenaikan pada kisaran 6.440–6.544. Lembaga tersebut menilai kenaikan volume pembelian dan posisi indeks di atas MA20 menjadi faktor yang mendukung skenario positif.
Di sisi lain, MNC Sekuritas tetap memasukkan skenario koreksi. Dalam kondisi terburuk, indeks dapat bergerak ke area 5.890–6.192 untuk membentuk wave (b).
BI Rate dan Risalah FOMC Menjadi Katalis
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Keputusan ini penting karena pasar akan menilai arah kebijakan domestik di tengah penguatan indeks dan rupiah.
Rupiah sebelumnya menguat 0,28% menjadi Rp17.827 per dolar AS pada 14 Agustus 2026. Sentimen penguatan mata uang itu dikaitkan dengan target asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Di pasar global, perhatian tertuju pada FOMC Minutes. Risalah rapat tersebut akan dicermati untuk mencari sinyal mengenai langkah The Fed dalam menentukan suku bunga selanjutnya.
Sentimen dalam negeri juga mendapat dukungan dari pidato Presiden Prabowo Subianto terkait RAPBN 2027. Pasar merespons target defisit 2,40% dari produk domestik bruto dan optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026.
Menurut Tim Riset Phintraco Sekuritas, prospek pertumbuhan dapat memperkuat persepsi investor atas kinerja korporasi domestik. Presiden menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% hingga semester I-2026, yang disebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Pergerakan setelah penembusan 6.480 akan bergantung pada kemampuan pasar menjaga area teknikal yang telah dilewati. Keputusan Bank Indonesia dan petunjuk dari The Fed akan menjadi faktor yang menentukan arah sentimen berikutnya.






