Kota-Kota Dunia Berebut Masuk MotoGP, Spanyol dan Eropa Tengah Bisa Kehilangan Seri

Sejumlah kota dari berbagai negara mulai menyatakan minat untuk menggelar MotoGP setelah proyek balapan di Adelaide diumumkan. Antusiasme itu berpotensi mengubah komposisi kalender, terutama bagi seri-seri yang selama ini terkonsentrasi di Eropa.

MotoGP tidak membuka ruang untuk menambah jumlah putaran karena kalender telah berisi 22 event. Setiap kota baru yang berhasil masuk harus menggantikan seri yang sudah ada.

Direktur Olahraga MotoGP Carlos Ezpeleta mengatakan pihaknya telah menerima pendekatan dari kota-kota di seluruh dunia. Menurutnya, minat tersebut mencerminkan posisi MotoGP sebagai ajang yang menarik bagi pusat-pusat perkotaan.

“Ada ribuan kota, jadi saya tidak bisa berbicara untuk semuanya. Namun, kami sudah dihubungi oleh kota-kota dari seluruh dunia,” ujar Ezpeleta, dikutip Kompas.com dari Crash.

Bukan Setiap Kota Bisa Membuat Lintasan

Ketertarikan kota besar tidak serta-merta membuat pelaksanaan balapan menjadi mudah. Sirkuit MotoGP memerlukan lahan yang luas, desain yang matang, serta standar keselamatan yang ketat.

Tantangan itu semakin besar jika lintasan direncanakan di area perkotaan. Ruang yang tersedia di dalam kota cenderung lebih terbatas dibandingkan kawasan sirkuit permanen.

Ezpeleta mengingatkan bahwa gagasan membangun sirkuit di tengah kota tidak dapat dipahami secara sederhana. “Terkadang orang yang tidak memahami detail olahraga ini hanya membaca judul dan berpikir bisa membuat sirkuit di kota mana pun,” katanya.

Ia menegaskan kebutuhan ruang menjadi salah satu syarat utama. Faktor keselamatan pebalap juga harus ditempatkan sebagai prioritas ketika lintasan dirancang di jalan raya atau kawasan urban.

Adelaide Mengubah Cara MotoGP Melihat Tuan Rumah

Perpindahan Grand Prix Australia dari Phillip Island ke Adelaide menjadi contoh penting bagi arah pengembangan baru MotoGP. Lokasi yang lebih dekat dengan pusat kota dipandang dapat memperluas akses penonton.

Penggemar diharapkan lebih mudah menjangkau arena karena tersedia hotel, restoran, transportasi umum, dan fasilitas pendukung di sekitarnya. Pendekatan tersebut juga berpotensi menarik penonton baru yang sulit mengunjungi sirkuit permanen.

Selain alasan akses, MotoGP melihat nilai komersial dari balapan yang hadir di kawasan perkotaan. Kehadiran event kelas dunia di kota besar dapat memperkuat pengalaman akhir pekan balap di luar aktivitas lintasan.

Namun, keputusan memindahkan GP Australia tidak lepas dari kritik. Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP asal Australia, menilai karakter Phillip Island sulit digantikan dan mempertanyakan keselamatan sirkuit jalan raya.

Eropa Berpotensi Menjadi Korban Penataan

Wilayah Spanyol dan Eropa Tengah disebut memiliki jumlah seri yang terlalu banyak dalam kalender saat ini. Kondisi tersebut membuat kawasan Eropa menjadi kandidat utama jika MotoGP perlu memberi ruang kepada destinasi baru.

Ezpeleta menyatakan kalender 22 seri sudah berada pada batas logistik yang dapat dikelola. “Saat ini kami memiliki 22 event. Ketika yang baru masuk, kemungkinan yang lain harus pergi,” ujarnya.

MotoGP tetap ingin menjaga kualitas tinggi dan karakter berbeda pada setiap putaran. Penyelenggara juga akan bekerja sama dengan promotor serta sirkuit lama untuk memperbaiki pengalaman penonton.

Ke depan, kedekatan dengan bandara utama, hotel, kota besar, dan layanan pendukung akan menjadi faktor penting dalam menentukan tuan rumah. Perubahan itu dapat membuat persaingan untuk mendapatkan tempat di kalender MotoGP semakin ketat.

Baca Juga