Setelah Ribuan Target Diserang, Produksi Rudal Iran Kembali Menguat Lebih Cepat

Serangan terhadap lebih dari 2.600 target terkait rudal dan industri militer Iran belum sepenuhnya menghentikan pemulihan kemampuan persenjataan Teheran. Pejabat pertahanan Israel kini menilai Iran mampu memprioritaskan produksi rudal lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.

Operasi besar Israel dan Amerika Serikat berlangsung sekitar 40 hari pada 2026. Dalam keseluruhan rangkaian serangan terhadap berbagai sasaran di Iran, kedua negara disebut melancarkan sekitar 30.000 serangan.

Pejabat IDF pada masa operasi tersebut menyatakan hampir seluruh komponen industri militer Iran mengalami kerusakan berat. Kerusakan itu mencakup fasilitas besar maupun kecil yang berkaitan dengan kapasitas pertahanan Iran.

Pemulihan di tengah kerusakan luas

Penilaian terbaru Israel menunjukkan kerusakan fisik tidak sepenuhnya memutus kemampuan Iran untuk membangun kembali fasilitas militernya. Perhatian utama kini tertuju pada langkah Teheran menghidupkan kembali jalur produksi rudal balistik.

The New York Times melaporkan Iran menggunakan buldoser untuk membuka akses menuju fasilitas rudal bawah tanah yang sebelumnya tertutup akibat serangan Israel. Upaya tersebut menjadi salah satu tanda bahwa fasilitas yang rusak mulai kembali diakses.

The Jerusalem Post juga menyebut telah mengonfirmasi pernyataan sejumlah pejabat senior Iran mengenai dimulainya kembali produksi senjata baru. Produksi itu dilaporkan berjalan lebih cepat daripada perkiraan Israel.

OperasiSasaranSkala yang disebut
Serangan Oktober 2024Target rudal balistik dan industri militer20 target penting
Serangan Juni 2025Fasilitas rudal dan industri militerSekitar 100 target
Perang 2026Target rudal dan industri militerLebih dari 2.600 target

Perubahan situasi ini berlawanan dengan penilaian awal kalangan ahli IDF. Setelah perang yang dimulai sejak Februari 2026, mereka semula memperkirakan sektor pertahanan Iran akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Kesalahan perhitungan serupa juga pernah muncul setelah serangan Israel pada Oktober 2024. Saat itu, Israel memperkirakan produksi rudal Iran akan tertunda setidaknya selama satu tahun.

Pada awal 2025, Israel menilai Iran ternyata telah memulihkan laju produksi rudal balistiknya. Perkembangan tersebut membuat Israel mempercepat rencana serangan lanjutan dari akhir 2025 menjadi Juni pada tahun yang sama.

Persediaan rudal justru bertambah

Serangan Juni 2025 sempat membuat IDF menyatakan telah menemukan cara untuk menghambat produksi rudal Iran selama beberapa tahun. Akan tetapi, estimasi Israel kemudian mencatat persediaan Iran naik dari sekitar 1.300 rudal pada Juni 2025 menjadi sekitar 2.500 rudal pada Februari 2026.

Kenaikan itu memperlihatkan bahwa serangan terhadap fasilitas industri militer tidak serta-merta menghasilkan penurunan persediaan rudal secara berkelanjutan. Bagi Israel, kemampuan Iran memulihkan produksi kini menjadi persoalan penting setelah kerusakan yang disebut meluas.

Penilaian mengenai rudal jarak jauh yang tersisa juga belum seragam di internal Israel. Sebagian pejabat memperkirakan sekitar 500 rudal tersisa, sementara penilaian lain menyebut jumlahnya dapat mencapai sekitar 1.000 rudal.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan Israel masih menghadapi ketidakpastian dalam mengukur kapasitas persenjataan Iran setelah perang. Namun, pembukaan kembali akses fasilitas dan peningkatan persediaan rudal memperkuat kekhawatiran atas kemampuan Teheran membangun kembali kekuatan militernya.

Baca Juga