Prius generasi pertama hadir di Jepang pada 1997 ketika kendaraan hybrid belum menjadi arus utama industri otomotif. Di belakang keputusan jangka panjang Toyota itu, terdapat dukungan kuat dari Hiroshi Okuda, pemimpin yang mendorong perusahaan berani keluar dari pola lama.
Mantan Presiden dan Chairman Toyota Motor Corporation tersebut dilaporkan meninggal dunia pada usia 93 tahun. Kyodo News menyampaikan kabar wafatnya pada Rabu (12/8/2026), tetapi Toyota belum memberikan pernyataan resmi hingga saat laporan itu beredar.
Investasi pada hybrid menjadi langkah yang menentukan karena Toyota kemudian menerapkan teknologi itu pada lebih banyak model dan pasar. Strategi tersebut memberi fondasi bagi perusahaan saat perhatian konsumen terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi semakin besar.
Pengaruh Okuda tidak hanya berkaitan dengan pengembangan kendaraan hemat bahan bakar. Ia juga mendorong Toyota menggarap sport utility vehicle, termasuk RAV4, yang berkembang menjadi salah satu produk penting perusahaan di pasar global.
Pemimpin yang Menolak Toyota Berjalan Lamban
Okuda dikenal blak-blakan, tegas, dan berani mengambil risiko ketika Toyota memerlukan perubahan arah. Otomotif.kompas.com mencatat, ia berupaya mencegah big company disease, yaitu sikap cepat puas dan lambannya pengambilan keputusan di perusahaan besar.
Ia menjadi Presiden Toyota pada 1995 saat perusahaan berada di bawah tekanan penurunan laba dan pangsa pasar domestik. Posisi itu juga penting secara historis karena Okuda merupakan pemimpin pertama dari luar keluarga pendiri dalam hampir tiga dekade.
Dalam masa kepemimpinannya, Toyota menghadapi ketegangan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat. Okuda disebut berperan di balik layar untuk meredakan situasi ketika industri otomotif Jepang menghadapi ancaman tarif hingga 100 persen atas ekspor mobil mewah ke Amerika Serikat.
| Tahun | Perjalanan Hiroshi Okuda di Toyota |
|---|---|
| 1995 | Menjadi Presiden Toyota |
| 1997 | Prius generasi pertama diluncurkan di Jepang |
| 1999 | Menjadi Chairman setelah jabatan presiden diserahkan kepada Fujio Cho |
| 2006 | Mengakhiri masa jabatan sebagai Chairman |
Ambisi Global dan Sisi Kritisnya
Okuda membawa Toyota lebih agresif memasuki pasar internasional melalui arah yang terkait dengan 2005 Vision. Rencana itu ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus mengubah citra Toyota yang kala itu dinilai terlalu konservatif.
Perusahaan memperluas produksi di Amerika Serikat dan membangun fasilitas manufaktur di Perancis. Toyota bahkan menutup salah satu pabrik di Jepang untuk pertama kali, langkah yang menandai perubahan besar pada pendekatan manufakturnya.
Namun, ekspansi cepat tersebut tidak lepas dari sorotan. Kebijakan pemangkasan biaya dan pertumbuhan agresif dinilai ikut berkaitan dengan masalah kualitas serta kelebihan kapasitas pada periode sesudahnya.
Okuda menyerahkan jabatan presiden kepada Fujio Cho pada 1999, lalu memimpin sebagai Chairman hingga 2006. Sesudahnya ia menjadi penasihat senior dan anggota dewan, sebelum keluar dari jajaran dewan dalam perubahan struktur manajemen pada 2009.
Warisan terpentingnya tetap terlihat pada keberlanjutan strategi hybrid Toyota. Keputusan yang diambil ketika pasar belum banyak melirik teknologi tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan utama perusahaan dalam menghadapi perubahan industri otomotif.






