Penggunaan PLTS membuat biaya listrik TPS 3R GO-SARI di Guwosari, Pajangan, Bantul, turun hingga sekitar 60 persen. Pengeluaran yang semula berada pada kisaran Rp3,5 juta sampai Rp4 juta per bulan kini menjadi sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
Sistem energi surya itu juga membantu mesin pengolahan sampah tetap bekerja ketika terjadi pemadaman listrik. PLTS yang dipasang pada 2026 memiliki kapasitas 6,6 kWp dan dilengkapi baterai berkapasitas 10 kWh.
Hendry, pengelola Local Hero Program DEB GO-SARI Rehabcycle sekaligus TPS 3R GO-SARI, mengatakan manfaat sistem tersebut dirasakan langsung dalam operasional harian. "Dengan dibantu PLTS, kebutuhan listrik kami bisa dihemat sampai sekitar 60 persen. Teman-teman juga tetap bisa bekerja ketika terjadi pemadaman listrik," ujarnya.
Mesin Pengolahan Didukung Volume Sampah Besar
Efisiensi energi menjadi penting karena fasilitas ini mengelola 3 hingga 3,5 ton sampah rumah tangga per hari. Layanan TPS menjangkau sekitar 1.500 rumah tangga dan membuka pekerjaan bagi 27 warga lokal.
| Komponen Operasional | Keterangan |
|---|---|
| Kapasitas PLTS | 6,6 kWp |
| Kapasitas baterai | 10 kWh |
| Penghematan listrik | Hingga 60 persen |
| Biaya listrik sebelum PLTS | Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per bulan |
| Biaya listrik setelah PLTS | Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan |
| Sampah yang dikelola | 3 hingga 3,5 ton per hari |
Pengelolaan ini berkembang ketika volume limbah rumah tangga meningkat dan TPA Piyungan ditutup. Warga Guwosari kemudian mengoperasikan fasilitas tersebut agar sampah yang masuk tidak seluruhnya menjadi beban pembuangan akhir.
Sampah yang diterima dipisahkan dalam empat kelompok, yaitu bosok, rosok, popok, dan bodongkok. Sistem itu memudahkan petugas menentukan jalur pengolahan setiap jenis limbah.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai
Fraksi organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budidaya maggot Black Soldier Fly. Maggot tersebut selanjutnya menjadi pakan ternak dan pakan bagi 458 ayam petelur.
Populasi ayam itu menghasilkan sekitar 27 kilogram telur setiap hari. Hasil pengolahan tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang membuat pendapatan TPS mencapai sekitar Rp98 juta per bulan.
Untuk limbah anorganik, plastik HDPE didaur ulang menjadi eco furniture, seperti meja, kursi, rak, dan pot bunga. Proses ini melibatkan kelompok lansia serta warga binaan Rutan Kelas IIB Bantul.
Operasional layanan juga menggunakan aplikasi Gosari Lestari. Aplikasi itu dipakai untuk transaksi layanan sampah, tabungan sampah anorganik, serta pemasaran produk hasil olahan.
Pendampingan untuk Kemandirian Pengelola
Dukungan PLTS berasal dari pendampingan CSR PT Pertamina Patra Niaga yang telah berjalan sejak 2022. Pada 12 Agustus 2026, perusahaan menyerahkan secara simbolis fasilitas Program Desa Energi Berdikari dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, menyatakan pendampingan tidak hanya ditujukan untuk menyediakan program. Menurut dia, kapasitas pengelola perlu diperkuat agar kegiatan mampu berlangsung mandiri.
"Kita tentunya tidak ingin setelah Pertamina pergi, program yang sudah sangat bagus ini berlalu begitu saja. Sehingga kami tidak hanya memberikan program CSR, tetapi juga memandirikan mereka," kata Taufik dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).
Selain dukungan operasional, sebanyak 771 paket sembako disalurkan kepada warga prasejahtera di sekitar lokasi program. Bagi pekerja seperti Ardian Sajidanto, yang telah bergabung hampir 2,5 tahun, pekerjaan di TPS turut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.






