The Panturas menilai jalur musisi Indonesia menuju panggung internasional perlu dibuka lebih luas sebelum pemerintah memperbesar perhatian pada industri hiburan luar negeri. Band tersebut menyoroti visa, paspor Indonesia, dan biaya tur sebagai hambatan yang paling sering dihadapi pelaku musik independen.
Permintaan itu mengemuka di tengah wacana investasi pemerintah pada sektor media, hiburan, dan industri K-Pop Korea Selatan melalui BPI Danantara. The Panturas berpandangan bahwa ekosistem domestik perlu diperkuat agar karya musisi lokal dapat menjadi bagian dari ekspor budaya Indonesia.
Undangan Tampil yang Tidak Selalu Terwujud
Gogon mengatakan banyak band potensial dari Indonesia telah menerima undangan dari festival atau acara musik internasional. Akan tetapi, kesempatan tersebut dapat gagal terwujud ketika proses keberangkatan dan kebutuhan dana tidak dapat dipenuhi.
“Banyak banget band-band potensial di Indonesia gitu yang punya kesempatan tapi terbentur sama dua hal yaitu keluarnya visa sama nggak ada uangnya gitu. Jadi kalau ada support-support yang bisa ngebantu sih bagus banget,” ungkap Gogon kepada Medcom.id.
Hambatan itu menunjukkan bahwa kualitas karya bukan satu-satunya syarat untuk menembus pasar luar negeri. Musisi independen juga harus menghadapi kebutuhan administratif dan logistik yang besar sebelum dapat memenuhi undangan tampil.
The Panturas menilai keterlibatan pemerintah dapat membantu memperkecil jarak antara peluang dan realisasi keberangkatan. Bentuk dukungan yang dibutuhkan tidak hanya berupa pembiayaan, melainkan pula perhatian terhadap perkembangan skena musik dan jejaring industri.
Contoh Dukungan dari Taiwan
Pengalaman di AXEAN Festival 2024 di Bali menjadi salah satu alasan The Panturas menilai dukungan institusional penting bagi musik lokal. Festival itu mempertemukan musisi independen Asia dengan promotor serta pelaku industri musik internasional.
Gogon bertemu seorang pegawai pemerintah Taiwan yang datang untuk memantau perkembangan skena musik di negara lain. Ia mengetahui pegawai tersebut memang dikirim pemerintah Taiwan untuk mengunjungi festival musik independen.
“Maksud gua, itu keren banget gitu bisa kayak gitu. Nah semoga di Indonesia ke depannya bisa kayak gitulah,” kata Gogon. Menurutnya, perhatian semacam itu berpotensi membuka ruang yang lebih luas bagi musisi untuk memperkenalkan karya.
Selain pengalaman di Bali, The Panturas juga melihat sejumlah band dari negara lain memperoleh dukungan pemerintah ketika tampil di luar negeri. Perbandingan tersebut memperkuat pandangan mereka bahwa musisi Indonesia memerlukan akses yang lebih terstruktur.
Rekam Jejak yang Sudah Terlihat
Sejumlah musisi Indonesia telah membuktikan bahwa karya independen dapat menjangkau pendengar dan panggung di luar negeri. Gogon menyebut capaian tersebut sebagai alasan untuk mendahulukan penguatan musik lokal Indonesia.
| Nama | Daerah asal | Aktivitas internasional yang disebut |
|---|---|---|
| Ali | Jakarta | Tur di Jepang, Eropa, dan Australia |
| LAIR | Majalengka, Jawa Barat | Tampil langsung di program radio independen KEXP, Amerika Serikat |
| Milledenials | Bali | Rangkaian tur di Jepang |
| Grrrl Gang | Tidak disebutkan | Memperluas kiprah musik independen di luar negeri |
Ali dikenal melalui musik funk bernuansa Timur Tengah, sementara LAIR memainkan psych-soul/funk. Kedua band itu memperlihatkan bahwa identitas musik dari daerah dapat memperoleh ruang di pasar internasional tanpa harus dilepaskan.
Gogon juga menilai kiprah Milledenials dan Grrrl Gang memperkuat bukti tentang potensi talenta lokal. “Banyak band yang lebih sidestream yang bener-bener bagus gitu, band dari musik lokal,” ujarnya.
Prioritas untuk Talenta Lokal
Acin mengaitkan kebutuhan itu dengan wacana investasi pada industri hiburan Korea Selatan. “Daripada invest ke K-Pop kan katanya kemarin ada tuh,” kata Acin.
Gogon menegaskan K-Pop merupakan musik yang bagus, tetapi Indonesia memiliki banyak musisi layak dorong. Ia menyebut grup idol NoNa sebagai salah satu talenta Indonesia yang telah membawa nama negara ke ruang yang lebih luas.
Bagi The Panturas, dukungan akan lebih bermakna jika hadir ketika karya musisi masih bertumbuh dalam lingkungan independen. Dengan begitu, undangan internasional yang diterima tidak lagi berhenti sebagai peluang yang sulit diwujudkan.






