Perdamaian Aceh Disebut Kunci Masa Depan, Warga Diingatkan Jaga Persaudaraan

Perdamaian dinilai menjadi pijakan penting bagi masa depan Aceh, mulai dari pendidikan hingga kesejahteraan masyarakat. Gubernur Aceh Muzakir Manaf meminta seluruh warga menjaga keadaan tersebut dengan menguatkan persaudaraan.

Ia menegaskan bahwa suasana kondusif dibutuhkan agar pembangunan dan kehidupan sosial berjalan bersama-sama. Pesan itu disampaikan dalam peringatan Hari Damai Aceh di Banda Aceh pada Jumat malam.

Muzakir Manaf mengingatkan bahwa perdamaian tidak boleh berhenti sebagai peristiwa masa lalu. Ia meminta masyarakat menjadikannya sebagai warisan bagi anak cucu.

“Mari kita rawat perdamaian ini dengan persaudaraan. Jangan kita wariskan luka kepada anak cucu,” kata Muzakir Manaf. Ia berharap generasi berikutnya menerima Aceh yang aman, bermartabat, maju, dan penuh kasih sayang.

Ruang untuk Pendidikan dan Lapangan Kerja

Menurut Muzakir Manaf, keadaan damai memberikan ruang bagi agenda pembangunan daerah. Sektor pendidikan, kesejahteraan, dan lapangan kerja menjadi bagian yang perlu didorong dalam kondisi yang stabil.

Ia juga menyoroti pelestarian agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh. Seluruh agenda tersebut, menurutnya, dapat berjalan lebih baik bila masyarakat menjaga suasana harmonis.

Ajakan tersebut menekankan bahwa perdamaian memiliki dampak luas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terkait keamanan, perdamaian juga berkaitan dengan kesempatan masyarakat membangun masa depan.

Karena itu, persaudaraan dipandang sebagai unsur penting untuk merawat keadaan yang telah tercipta. Masyarakat diharapkan tidak membiarkan pengalaman luka masa lalu kembali membayangi generasi mendatang.

Zikir Bersama Seribuan Warga dan Santri

Peringatan Hari Damai Aceh berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman dan diisi dengan zikir serta doa bersama. Tgk. Jamaluddin Rasyid memimpin rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.

Seribuan warga dan santri hadir dalam acara itu. Sejumlah pejabat Pemerintah Aceh juga mengikuti peringatan yang mempertemukan unsur masyarakat dan pemerintah tersebut.

Bupati Aceh Besar Muharram Idris turut hadir bersama Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal. Kehadiran berbagai kalangan memperlihatkan dukungan terhadap penguatan pesan damai di Aceh.

Tausiah tentang Nikmat Perdamaian

Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Tgk H Muhammad Ali atau Abu Paya Pasie mengajak masyarakat mensyukuri kondisi Aceh setelah perdamaian. Dalam tausiahnya, ia menyebut keadaan daerah semakin membaik.

“Nikmat perdamaian yang kita rasakan ini harus kita jaga dan syukuri. Perdamaian telah membuat daerah kita yang dulu miskin sekarang menjadi kaya,” kata Abu Paya Pasie.

Ia menghubungkan rasa syukur atas kemerdekaan dan perdamaian dengan pelaksanaan perintah agama. Menurutnya, sikap tersebut penting untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Abu Paya Pasie juga mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan perintah Allah. Peringatan Hari Damai Aceh kemudian menjadi ruang bersama untuk menegaskan kembali pentingnya kedamaian, rasa syukur, dan persatuan.

Baca Juga