Pekerjaan Awal Makin Langka Saat Pengangguran Anak Muda Global Menembus 67 Juta

Sekitar 67 juta anak muda di dunia belum memperoleh pekerjaan ketika lowongan untuk posisi awal karier semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat lulusan baru menghadapi persaingan lebih berat untuk memasuki pasar kerja.

ILO mencatat tingkat pengangguran anak muda usia 15 hingga 24 tahun secara global naik dari 12,3 persen pada 2024 menjadi 12,4 persen pada tahun lalu. Kenaikan itu terjadi setelah pemulihan pasar kerja kaum muda pascapandemi Covid-19 tidak bertahan lama.

Posisi perkantoran dan administrasi, penjualan, serta manufaktur selama ini menjadi jalur masuk yang penting bagi pekerja muda. Kini, bidang-bidang tersebut justru disoroti karena peluang kerja pemulanya terus menyusut.

Keterbatasan posisi awal menjadi persoalan besar bagi anak muda yang belum memiliki pengalaman kerja panjang. Tanpa jalur masuk yang memadai, masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan layak berpotensi menjadi lebih panjang.

Tekanan Pasar Kerja Bertambah

Perlambatan ekonomi global dan berkurangnya penciptaan pekerjaan ikut membatasi peluang bagi angkatan kerja muda. Ketegangan geopolitik serta perubahan teknologi juga menambah ketidakpastian di pasar kerja.

ILO memperkirakan tingkat pengangguran anak muda global akan berada pada 12,3 persen pada 2026 dan 2027. Walau sedikit lebih rendah dibandingkan angka tahun lalu, proyeksi itu belum menghilangkan kekhawatiran karena kelompok yang tidak bekerja maupun belajar juga bertambah.

Proporsi kelompok NEET naik tipis menjadi 20 persen atau memengaruhi lebih dari 257 juta anak muda. Kelompok ini mencakup mereka yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.

Kepala ILO Gilbert Houngbo menekankan bahwa pekerjaan layak menentukan keyakinan generasi muda dalam membangun masa depan. “Generasi yang tidak dapat menemukan pekerjaan layak tidak akan mampu membangun masa depannya dengan penuh keyakinan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tersisihnya kaum muda dari pekerjaan berkualitas dapat melemahkan talenta, produktivitas, dan kohesi sosial. Karena itu, perluasan akses terhadap pekerjaan pemula memiliki nilai sosial dan ekonomi yang besar.

Kawasan dengan Beban Tertinggi

Masalah pengangguran kaum muda tidak berkembang seragam di setiap kawasan. Peningkatan terbesar tercatat di Afrika Utara, Amerika Utara, serta Eropa Utara, Selatan, dan Barat.

SubkawasanPengangguran Anak MudaPosisi Global
Negara-negara Arab26,2 persenTertinggi
Afrika Utara22,6 persenTermasuk yang tertinggi

Negara-negara Arab dan Afrika Utara masih menjadi subkawasan dengan tingkat pengangguran anak muda tertinggi di dunia. ILO memperingatkan bahwa kenaikan dari tingkat yang sudah tinggi dapat menandakan hambatan struktural yang semakin dalam.

Di Asia Tengah dan Barat serta Eropa Timur, penurunan tingkat pengangguran dibarengi kenaikan jumlah anak muda dalam kategori NEET. Sebaliknya, Amerika Latin dan Karibia membukukan penurunan pada kedua indikator, antara lain karena populasi usia mudanya menyusut.

Dampak AI Belum Dapat Dipastikan

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI memicu kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan pekerjaan dan menghambat pendapatan yang stabil bagi anak muda. Namun, ILO belum menemukan dasar untuk menyatakan AI sebagai penyebab langsung kenaikan pengangguran kaum muda.

Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Usaha Berkelanjutan ILO Sukti Dasgupta menilai hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih jauh. Dunia kerja kini menghadapi ketidakpastian ekonomi global sekaligus risiko baru yang berkaitan dengan AI.

Tantangan berikutnya bukan sekadar menambah jumlah lapangan kerja. Pasar kerja perlu menjaga agar posisi awal tetap tersedia ketika teknologi mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Baca Juga