Pacu Kude di Aceh Tengah tumbuh dari pesta panen masyarakat Gayo, lalu berkembang menjadi salah satu agenda budaya dalam perayaan kemerdekaan. Perubahan fungsi itu tidak menghilangkan ciri utamanya, yakni pacuan kuda dengan joki muda yang menunggang tanpa pelana.
Tradisi ini mempertemukan olahraga rakyat, hiburan, dan adat dalam satu arena. Di tengah persaingan kuda yang melaju cepat, masyarakat juga menjaga hubungan antarkampung melalui silaturahmi.
Berawal Setelah Musim Panen
Pada awalnya, Pacu Kude digelar oleh masyarakat Gayo yang banyak bekerja sebagai petani. Pacuan menjadi hiburan setelah panen padi atau luah berume, sekaligus cara warga melepas lelah setelah beraktivitas di persawahan.
Lokasi pacuan ketika itu berada di area sawah dan pelaksanaannya kerap dilakukan pada pagi atau sore hari setelah salat ashar. Keterkaitan dengan musim panen membuat Agustus menjadi bulan yang lama melekat dengan tradisi tersebut.
Catatan yang dirangkum beautynesia.id menyebut pacuan kuda tradisional Gayo pertama kali berlangsung pada 1850. Kegiatan itu digelar di sisi timur Danau Laut Tawar, Kecamatan Bintang, dengan lintasan sekitar 1,5 kilometer.
Pada 1912, pemerintah kolonial Belanda mulai mengatur pacuan dan memusatkannya di Takengon. Sejak dekade 1930-an, perlombaan kuda tradisional Gayo mulai dijalankan setiap tahun.
Jadwal Pacu Kude Kini Lebih Teratur
Pacu Kude saat ini tidak lagi sekadar pesta spontan para pemuda selepas panen. Kegiatan tersebut telah masuk dalam agenda perayaan Hari Jadi Kota Takengon pada Februari serta Hari Kemerdekaan RI pada Agustus.
| Perayaan | Bulan | Peran Pacu Kude |
|---|---|---|
| Hari Jadi Kota Takengon | Februari | Bagian dari agenda tahunan |
| Hari Kemerdekaan RI | Agustus | Perayaan 17 Agustusan |
Perlombaan dapat digelar selama sepekan di lapangan terbuka, salah satunya Lapangan Muan Alun di Takengon. Arena pacu memiliki jalur melingkar dengan pagar rotan sebagai pembatas.
Warga dari Aceh Tengah datang menyaksikan pacuan bersama peserta dan pengunjung dari wilayah sekitar. Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara termasuk daerah yang dapat ikut meramaikan perlombaan ini.
Joki Muda Tanpa Pelana
Keunikan Pacu Kude terlihat jelas pada para joki yang umumnya berusia 12 hingga 16 tahun. Mereka menunggang tanpa pelana dan tanpa alas kaki, sehingga keterampilan menjaga posisi di atas kuda sangat menentukan.
Kuda asli Gayo pada mulanya menjadi andalan dalam pacuan ini. Posturnya relatif kecil, tetapi dikenal memiliki kelincahan dan daya tahan yang kuat.
Sejumlah kuda lokal kemudian disilangkan dengan kuda Australia atau keturunan lain. Persilangan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kuda dalam hal kecepatan dan kekuatan.
Makna Sosial di Balik Arena Pacu
Bagi masyarakat Gayo, Pacu Kude merupakan ruang untuk bersyukur atas hasil bumi dan bertemu warga dari kampung lain. Tradisi pertemuan itu dikenal sebagai belangi neger, yang menempatkan pacuan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Keberanian joki dan persaingan di lintasan juga dipandang mencerminkan sportivitas serta semangat juang. Nilai inilah yang membuat Pacu Kude tetap relevan dalam peringatan kemerdekaan dan menarik minat wisatawan ke Aceh Tengah.






