Ketika merek otomotif China memasuki pasar Indonesia tanpa pabrik sendiri, kebutuhan perakitan lokal menjadi persoalan yang harus segera dijawab. PT Handal Indonesia Motor (HIM) mengambil peran itu dengan menyediakan fasilitas manufaktur tanpa mengikat diri pada satu merek atau jalur distribusi.
Model bisnis independen membuat HIM dapat melayani beberapa prinsipal sekaligus. Perusahaan memusatkan kegiatannya pada perakitan kendaraan, sementara identitas merek dan urusan penjualan tetap berada di tangan masing-masing mitra.
Pendekatan tersebut memberi jalur bagi produsen untuk memulai perakitan lokal tanpa langsung mengelola pabrik secara mandiri. HIM pun dapat menggunakan kapasitas produksinya bagi lebih dari satu proyek kendaraan.
Model dan Merek yang Memakai Fasilitas Handal
Fasilitas perakitan HIM di Purwakarta, Jawa Barat, telah dipakai oleh sejumlah merek dan model. Pemanfaatan pabrik itu mencakup kendaraan niaga maupun kendaraan penumpang dari merek yang berkaitan dengan ekspansi otomotif China.
| Merek atau Model | Penggunaan Fasilitas |
|---|---|
| Farizon V8E | Dirakit lokal di fasilitas Handal, Purwakarta |
| Aletra | Menggunakan fasilitas perakitan Handal di Purwakarta |
| Geely EX2 | Mulai dirakit lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor |
Daftar tersebut menunjukkan bahwa fasilitas yang sama dapat mendukung kebutuhan produksi dari beberapa mitra. Posisi ini menjadi pembeda HIM dibanding manufaktur yang hanya melayani satu prinsipal.
Presiden Direktur HIM, Denny Siregar, menjelaskan bahwa perusahaan sengaja tidak masuk ke kepemilikan merek maupun distribusi. “HIM tidak pegang brand dan HIM tidak distributor, ini yang jadi inisiatif strategis Handal, kami hanya jahit-jahit, hanya assembly, kami manufaktur nanti,” katanya.
Berawal dari Pencarian Mitra
Menurut Denny, perusahaan telah mencari produsen yang membutuhkan fasilitas perakitan sejak periode 2017 hingga 2019. Periode itu juga menjadi fase transisi operasional hingga perusahaan menggunakan nama Handal Indonesia Motor.
Fasilitas tersebut sebelumnya berkaitan dengan Hyundai Indonesia Motor yang berdiri pada 1994. Ketersediaan kapasitas pabrik kemudian mendorong perusahaan mencari cara agar utilisasinya dapat terisi.
Denny menyebut kebutuhan untuk mencari “loading” menjadi salah satu latar belakang perluasan bisnis perakitan. Kondisi pasar dan fasilitas yang telah tersedia mendukung langkah perusahaan untuk menerima kerja sama dari pihak lain.
Setelah pandemi Covid-19, kerja sama HIM dimulai bersama Chery lalu berlanjut dengan Neta. Kehadiran mitra tersebut memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia jasa manufaktur, bukan sebagai pemegang merek kendaraan.
Kepercayaan dari Jaringan Industri
Fasilitas produksi bukan satu-satunya faktor yang mendukung masuknya mitra baru ke HIM. Rekomendasi dari jaringan pelaku industri otomotif China juga ikut membantu penyebaran informasi mengenai kemampuan perusahaan.
Denny mengatakan pola hubungan dalam industri otomotif China membuat informasi antarpelaku usaha dapat beredar dengan cepat. “Jadi ya mungkin kelebihannya Handal itu word of mouth,” ujar Denny kepada Kompas.com di Purwakarta.
Ia menilai pelaku industri di China sering berasal dari jaringan yang saling mengenal. Situasi tersebut membuat merek China lain dapat memperoleh informasi mengenai HIM melalui pengalaman atau rekomendasi pihak lain.
Bagi calon prinsipal, keberadaan mitra manufaktur independen memberi pilihan untuk memulai produksi lokal secara lebih fleksibel. Bagi HIM, fokus pada perakitan menjaga peluang kolaborasi tetap terbuka seiring berkembangnya kehadiran kendaraan China di Indonesia.






