Model AI China menyumbang 63% dari total penggunaan token perusahaan AI pada pekan pertama Juli 2026, menurut data OpenRouter. Lonjakan ini menandai perubahan besar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, ketika kontribusinya baru mencapai 10%.
Kenaikan penggunaan tersebut memperlihatkan bahwa model dari China semakin dipakai secara internasional. Perusahaan teknologi kini memiliki pilihan yang lebih luas untuk menjalankan layanan AI tanpa sepenuhnya bergantung pada penyedia asal Amerika Serikat.
| Periode | Kontribusi Model AI China | Sumber Data |
|---|---|---|
| Pekan pertama Juli 2026 | 63% | OpenRouter |
| Periode sama tahun sebelumnya | 10% | OpenRouter |
Biaya Menjadi Pembeda Utama
Daya tarik utama model China terletak pada kombinasi kemampuan dan efisiensi pengeluaran. Bagi layanan dengan volume permintaan tinggi, biaya inferensi menjadi komponen penting karena model harus memproses permintaan pengguna secara terus-menerus.
Lindy AI memberi gambaran mengenai dampak langsung dari pertimbangan tersebut. Startup penyedia asisten AI ini beralih dari Anthropic ke DeepSeek dan menyatakan biaya inferensinya dapat dipangkas hingga 90%.
Keputusan Lindy AI menunjukkan bahwa pelanggan bisnis tidak hanya membandingkan kualitas jawaban model. Mereka juga mengukur biaya penggunaan teknologi saat diterapkan dalam skala operasional yang besar.
CNBC Indonesia melaporkan bahwa faktor biaya menjadi salah satu alasan penting di balik pergeseran pilihan teknologi ini. Model yang lebih hemat dapat menekan beban perusahaan tanpa harus mengabaikan kebutuhan akan kemampuan AI yang kompetitif.
Model Baru Memperketat Persaingan
Pengembang AI China juga terus memperkenalkan model yang diklaim semakin mendekati kemampuan produk unggulan dari AS. Moonshot, misalnya, merilis Kimi K3 yang disebut mampu bersaing ketat dengan model dari OpenAI dan Anthropic.
Kombinasi kemampuan tinggi dan biaya lebih rendah memberi tekanan kepada pengembang AI AS. Persaingan industri pun bergeser dari perlombaan membuat model tercanggih menjadi pertarungan untuk menyediakan penggunaan yang efisien bagi pelanggan.
Situasi ini dapat mengubah pola pemilihan penyedia AI di perusahaan-perusahaan teknologi. Jika selisih biaya cukup besar, penghematan operasional berpotensi menjadi alasan kuat untuk mencoba model dari pasar lain.
Aturan Global dan Keamanan Ikut Menentukan
Ekspansi penggunaan AI China berlangsung ketika Beijing juga ingin mengambil peran lebih besar dalam pembentukan aturan global. Presiden China Xi Jinping menyerukan keterlibatan negaranya yang lebih luas dalam tata kelola AI.
Berdasarkan laporan GuruFocus, Xi menekankan bahwa AI harus tetap berada dalam kendali manusia. Ia juga menyoroti kerja sama antarnegara pada keamanan, standar teknis, dan akses bagi negara berkembang.
Namun, pertumbuhan adopsi tersebut dibayangi kemungkinan pengetatan kebijakan di China maupun Amerika Serikat. Pemerintah China dikabarkan membahas isu keamanan dengan Alibaba Group Holding serta mempertimbangkan pembatasan akses luar negeri terhadap sistem AI paling canggih di dalam negeri.
Di AS, pembuat kebijakan mulai menyelidiki penggunaan model AI China oleh Airbnb dan Anysphere. Palantir Technologies turut menyuarakan kekhawatiran bahwa model sumber terbuka dari China dapat menjadi ancaman ekonomi.
Perusahaan AS pada akhirnya harus menimbang manfaat efisiensi biaya dengan risiko kebijakan dan keamanan. Ketika penggunaan model China terus meningkat, akses teknologi dan aturan lintas negara akan menjadi faktor penting dalam arah persaingan AI berikutnya.






