Fasilitas pelabuhan di Nusa Tenggara Timur mengalami dampak berbeda setelah gempa bumi, dari bangunan yang retak hingga dermaga yang ambles. Tiga lokasi dengan kerusakan paling menonjol ialah Maumere, Labuan Bajo, dan Marapokot.
Operasional fasilitas yang memiliki indikasi kerusakan struktural tidak dapat dilakukan sebelum ada pemeriksaan teknis. Kebijakan ini diterapkan untuk melindungi penumpang, awak kapal, petugas pelabuhan, dan aktivitas pelayaran.
Status Kerusakan di Tiga Pelabuhan
| Lokasi | Dampak gempa | Fasilitas terkait |
|---|---|---|
| Maumere | Bagian fasilitas roboh | Dermaga dan terminal penumpang |
| Labuan Bajo | Keretakan pada tembok dan dermaga | Kantor, terminal, gudang, dan dermaga |
| Marapokot | Penurunan elevasi dan pagar runtuh | Causeway, dermaga eksisting, dan pagar pembatas |
Pelabuhan Laurentius Say atau Maumere mencatat kerusakan paling berat karena bagian dermaga dan bangunan terminal penumpangnya roboh. Ketika gempa terjadi pada Sabtu (15/8), KM Bukit Siguntang sedang berada dalam posisi sandar di dermaga tersebut.
Petugas melakukan pengamanan terhadap kapal, penumpang, awak kapal, petugas, dan area pelabuhan yang terkena dampak. Kondisi infrastruktur kemudian menjadi perhatian Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Di Labuan Bajo, keretakan ditemukan pada kantor dan terminal penumpang Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Keretakan juga dilaporkan muncul pada tembok kantor serta gudang di Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu.
Sejumlah perjalanan wisata dari Labuan Bajo sempat dibatalkan sementara setelah gempa. Pelayanan pelayaran dibuka kembali sesudah BMKG mencabut peringatan dini tsunami dan fasilitas dermaga serta terminal dinilai aman digunakan.
Pelabuhan Marapokot menghadapi jenis gangguan berbeda karena causeway dan dermaga eksisting mengalami penurunan elevasi. Pagar pembatas di kawasan pelabuhan itu juga mengalami keruntuhan.
Fasilitas yang Diperiksa
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud meminta unit pelaksana teknis di wilayah terdampak memperketat pemantauan selama sekurang-kurangnya 24 hingga 48 jam. Pemeriksaan diarahkan pada unsur utama yang menopang keselamatan kegiatan sandar dan pelayanan kapal.
Petugas memeriksa struktur dermaga, trestle, apron, fender, bollard, serta terminal penumpang. Pemeriksaan juga meliputi listrik, fasilitas BBM, alat bongkar muat, alur pelayaran, dan akses darat menuju pelabuhan.
Menurut laporan finance.detik.com, hasil pemeriksaan menjadi dasar pengamanan dan langkah penanganan pada setiap fasilitas terdampak. Dengan demikian, penetapan kondisi aman tidak hanya bergantung pada pengamatan awal setelah gempa.
“Fasilitas yang mengalami keretakan, deformasi, atau indikasi kerusakan struktural, tidak dioperasikan sebelum dinyatakan aman melalui pemeriksaan teknis,” ujar Masyhud dalam keterangan tertulis pada Sabtu (15/8/2026). Pernyataan itu menegaskan bahwa penggunaan fasilitas harus menunggu kepastian dari pemeriksaan teknis.
Dampak di Pelabuhan Lain
Pelabuhan Reo, Ende, dan Waingapu dilaporkan mengalami kerusakan dalam kategori ringan hingga sedang. Pelabuhan Larantuka dilaporkan aman dan tidak mengalami kerusakan.
Pemerintah terus memantau fasilitas transportasi laut di NTT untuk menjaga konektivitas masyarakat. Pengguna jasa diminta tetap tenang dan mengikuti arahan petugas serta informasi resmi di area pelabuhan.






