Peluang emas menembus US$4.455 per ons troi masih terbuka, tetapi pasar menghadapi penghalang yang tidak ringan. Tingginya imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat membuat kenaikan harga logam mulia belum sepenuhnya aman.
Harga emas naik 0,58 persen pada penutupan Jumat, 14 Agustus 2026, menjadi US$4.376,6 per ons troi. Posisi tersebut menempatkan emas di dalam area resistance yang sedang dipantau pelaku pasar.
Batas harga yang menentukan arah
Rentang US$4.365 hingga US$4.455 per ons troi menjadi resistance utama bagi emas saat ini. Kemampuan harga melampaui batas atas rentang tersebut akan menentukan apakah reli dapat berlanjut dengan lebih kuat.
Jika harga justru berbalik turun, pasar melihat US$4.300 hingga US$4.305 sebagai support awal. Area US$4.100 hingga US$4.120 per ons troi kemudian menjadi penopang yang lebih penting karena merupakan dasar breakout sebelumnya.
| Area Pantauan | Rentang Harga | Fungsi |
|---|---|---|
| Resistance awal hingga utama | US$4.365–US$4.455 | Ujian bagi kelanjutan reli |
| Support terdekat | US$4.300–US$4.305 | Penopang pertama saat koreksi |
| Support penting | US$4.100–US$4.120 | Dasar breakout sebelumnya |
| Penutupan Jumat | US$4.376,6 | Naik 0,58 persen |
Yield tinggi mengubah daya tarik emas
Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kenaikan yield obligasi membuat surat utang AS lebih kompetitif bagi investor. Selama kondisi itu bertahan, ruang kenaikan emas dapat tertahan meski fundamentalnya membaik.
Fawad Razaqzada, Market Analyst Forex.com, menyebut imbal hasil obligasi yang tinggi sebagai hambatan signifikan. “Fundamental emas mungkin telah membaik dalam beberapa pekan terakhir, tetapi logam mulia tersebut masih menghadapi hambatan signifikan dari tingginya imbal hasil obligasi,” kata Razaqzada.
Menurutnya, penurunan yield merupakan syarat penting agar kenaikan harga dapat memperoleh dukungan yang lebih kuat. Data ekonomi Amerika Serikat yang kembali melemah juga diperlukan untuk menjaga momentum emas.
Dolar melemah setelah data AS melunak
Penguatan emas dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi pelemahan dolar AS. Tekanan pada dolar muncul setelah data pasar tenaga kerja melambat, penjualan ritel terealisasi rendah, dan kepercayaan konsumen menurun.
Data yang berada di bawah perkiraan pasar itu memperkuat harapan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada September 2026. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu alasan pasar tetap mencermati prospek harga emas.
Dalam sepekan, Harga Emas tercatat menguat hampir 0,9 persen. Kinerja itu mengikuti lonjakan 7,4 persen pada pekan sebelumnya, ketika pelemahan dolar memberi ruang bagi reli yang lebih cepat.
Lonjakan minyak menambah ketidakpastian
Pasar juga memperhitungkan risiko inflasi dari kenaikan harga minyak bumi dan perkembangan di Timur Tengah. Harga minyak melonjak sekitar 20 persen sepanjang Juli, sehingga berpotensi membuat inflasi AS lebih sulit dikendalikan.
Tekanan inflasi yang bertambah dapat mempersulit pembentukan kondisi yang mendukung emas secara konsisten. Karena itu, pasar akan memperhatikan data ekonomi AS, arah dolar, serta pergerakan yield obligasi sebelum menilai kekuatan reli berikutnya.
Emas masih memiliki dukungan dari data ekonomi AS yang melunak, tetapi resistance teknikal belum terlewati dengan meyakinkan. Perubahan pada imbal hasil obligasi AS akan menjadi penentu penting bagi kelanjutan pergerakan harga.






