Saat Sungai Menyusut, PLTN Eropa Terhenti dan Ekonomi Terancam Kehilangan 180 Miliar Euro

Surutnya permukaan sungai akibat kekeringan dapat langsung membatasi operasi pembangkit listrik tenaga nuklir di Eropa. Di Rumania, Nuclearelectrica menghentikan reaktor yang masih beroperasi di PLTN Cernavoda karena rendahnya permukaan Sungai Danube.

Gangguan tersebut menunjukkan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga pada ketersediaan air pendingin. PLTN membutuhkan air dalam jumlah besar dan biasanya dibangun di dekat sungai atau pesisir untuk mendukung sistem pendinginan reaktor.

Dua reaktor Cernavoda pada kondisi normal memasok sekitar 20% kebutuhan listrik Rumania. Pemerintah sebelumnya telah berupaya mempertahankan aliran air melalui pengerukan dan peledakan bawah air.

Risiko yang sama muncul di negara Eropa lain, meski dampaknya tidak seragam. Curah hujan yang membaik di Hungaria, misalnya, memungkinkan satu turbin tambahan kembali dijalankan di PLTN Paks.

NegaraPembangkitGangguan atau PemulihanKontribusi Listrik
RumaniaCernavodaReaktor dihentikan karena Sungai Danube rendahSekitar 20% dari dua reaktor
HungariaPaksTurbin tambahan beroperasi setelah hujan meningkatHampir separuh kebutuhan nasional
PrancisGravelinesTiga reaktor ditutup karena gangguan ubur-uburNuklir memasok sekitar 70%

Perdana Menteri Péter Magyar mengatakan dua dari delapan turbin di PLTN Paks telah kembali beroperasi. Salah satunya merupakan turbin tambahan yang dapat dijalankan setelah kondisi air membaik.

Gangguan Tidak Selalu Berasal dari Kekeringan

Prancis menghadapi tekanan yang lebih berlapis karena suhu tinggi, kekeringan, dan gangguan pada sistem pengambilan air. EDF menutup tiga reaktor di PLTN Gravelines setelah ubur-ubur dalam jumlah besar memicu sistem pencegahan otomatis.

Gangguan di Prancis menjadi perhatian besar karena sekitar 70% listrik negara itu berasal dari tenaga nuklir. Pengurangan produksi reaktor akibat suhu tinggi dan kekeringan dapat memengaruhi sistem kelistrikan nasional secara lebih luas.

Penutupan pembangkit nuklir dalam jumlah tinggi juga pernah terjadi pada musim panas sebelumnya. Gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan membatasi operasi fasilitas energi di sejumlah wilayah Eropa.

Efeknya Menjalar ke Harga Pangan dan Transportasi

Bank Belanda Triodos memperkirakan gelombang panas musim panas ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 180 miliar euro, atau sekitar US$207,7 miliar. Jumlah itu setara 1% produk domestik bruto Uni Eropa dan hampir menyamai proyeksi pertumbuhan ekonomi blok tersebut sepanjang 2026.

Menurut Triodos, dampak panas terhadap ekonomi tidak berhenti pada berkurangnya produksi energi dan kenaikan harga listrik. Tekanan juga datang dari penurunan produksi pertanian, kenaikan harga pangan, gangguan transportasi, peningkatan biaya angkutan, serta turunnya produktivitas pekerja.

“Dampak utama panas terhadap PDB Uni Eropa adalah penurunan produksi pertanian dan kenaikan harga pangan, terbatasnya produksi energi dan kenaikan harga listrik, gangguan transportasi dan peningkatan biaya transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja,” kata Triodos. Proyeksi itu menggambarkan besarnya dampak cuaca ekstrem terhadap kegiatan ekonomi sehari-hari.

Pemerintah Eropa mempertimbangkan peningkatan sistem pendinginan dan penyesuaian jadwal pemeliharaan pembangkit sebagai bagian dari respons. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan fasilitas nuklir terhadap perubahan kondisi iklim.

Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham menggelar rapat komite darurat Cobra untuk membahas dampak panas ekstrem, kebakaran hutan, dan kekeringan. Suhu berpotensi mencapai 38 derajat Celsius, dengan risiko terhadap sektor energi, layanan publik, dan aktivitas ekonomi.

Kepala Program Internasional Energy and Climate Intelligence Unit Gareth Remond-King menilai penanganan harus dilakukan lebih dini. Ia mengatakan tekanan terhadap sistem iklim tidak akan berlalu begitu saja, terutama bila penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca terus meningkat.

Baca Juga