Kargo Lintas Darat, Laut, dan Udara Butuh Data Terpadu agar Tak Tersendat

Distribusi barang di Indonesia dapat melintasi jalur darat, laut, dan udara dalam satu rantai pengiriman. Keragaman moda di negara kepulauan ini membuat koordinasi data dan pihak terkait menjadi pekerjaan penting bagi pelaku usaha.

Hambatan muncul ketika informasi pengiriman tidak tersedia dalam satu sistem yang sama. Perusahaan kemudian harus memantau administrasi, status kargo, dan komunikasi dengan mitra melalui saluran yang berbeda-beda.

Forwarder AI menawarkan platform digital freight forwarding untuk membantu pengelolaan pengiriman lintas moda. Layanan tersebut memadukan proses pemesanan, pelacakan, dan pelaporan dalam satu sistem.

Dengan sistem terpadu, pelanggan dapat mengikuti status pengiriman tanpa perlu berganti platform. Pendekatan tersebut juga ditujukan untuk mengurangi potensi kekeliruan yang berkaitan dengan administrasi manual.

Tiga Layanan untuk Operasional Pengiriman

Platform Forwarder AI mencakup layanan yang menyasar pengelolaan pengiriman, keterhubungan data, dan pengaturan transportasi. Masing-masing layanan menangani jenis informasi operasional yang berbeda.

LayananPeranRuang Lingkup Informasi
Digital Freight ForwardingMengelola pemesanan, pelacakan, dan pelaporanPengiriman darat, laut, dan udara
API IntegrationMenghubungkan informasi ke sistem internalJadwal kapal, kargo, tarif, pemesanan
ForsisMengelola transportasiPengiriman, vendor, biaya, GPS

API Integration memungkinkan informasi logistik terhubung langsung ke sistem internal perusahaan. Pengguna dapat melihat jadwal keberangkatan kapal, memantau posisi kargo, mengecek tarif, serta melakukan pemesanan dalam alur yang terhubung.

Selain itu, tersedia Forsis yang berfungsi sebagai Transportation Management System. Sistem ini digunakan untuk mengelola operasional pengiriman, manajemen vendor atau mitra, rekapitulasi biaya, dan integrasi GPS.

Proses Manual Masih Menjadi Beban

Catatan Cargoclix menunjukkan 45,5% kegiatan administrasi pelaku usaha logistik masih dilakukan secara manual. Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan administratif yang berpotensi menunda pengambilan keputusan operasional.

Dalam praktik sehari-hari, dokumen kertas dapat digunakan bersamaan dengan email, aplikasi perpesanan, dan spreadsheet. Banyaknya kanal membuat data pengiriman lebih sulit dipantau sekaligus membuka ruang bagi miskomunikasi.

COO Forwarder AI, Ferna Arga, menyatakan penggunaan teknologi diarahkan untuk mengotomatisasi proses operasional. “Di tengah tingginya biaya dan kompleksitas geografis logistik Indonesia, Forwarder.ai memanfaatkan teknologi untuk mengotomatisasi operasional dan menyatukan data pengiriman secara end-to-end,” ujarnya.

Ferna menilai perubahan dari proses manual menuju efisiensi digital dapat diukur melalui pengelolaan data yang lebih menyatu. Mediaindonesia.com menyebut ketersediaan informasi terpadu dapat membantu memperkuat visibilitas dalam proses logistik.

Digitalisasi tidak menggantikan kebutuhan koordinasi di rantai pasok yang rumit. Namun, sistem yang terhubung memberi perusahaan alat untuk mengelola pergerakan barang dan informasi pendukungnya secara lebih efektif.

Baca Juga