Energi Melonjak 2,24 Persen, IHSG Naik di Tengah Tekanan Bursa Asia

Sektor energi melonjak 2,24 persen dan menjadi penggerak terbesar kenaikan IHSG pada Selasa, 18 Agustus 2026. Indeks saham gabungan ditutup naik 0,75 persen atau 47,9 poin ke posisi 6.449,8.

Kinerja tersebut menonjol karena mayoritas bursa Asia bergerak melemah pada hari yang sama. Sentimen dalam negeri mampu menahan tekanan eksternal yang berasal dari perkembangan Timur Tengah dan perlambatan ekonomi China.

Selain energi, sektor infrastruktur naik 1,65 persen dalam perdagangan tersebut. Sektor transportasi menguat 1,42 persen dan properti bertambah 1,21 persen.

SektorPerubahanStatus
Energi2,24%Naik
Infrastruktur1,65%Naik
Transportasi1,42%Naik
Properti1,21%Naik
Keuangan-0,29%Turun

Sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang ditutup melemah, dengan penurunan 0,29 persen. Komposisi sektoral tersebut memperlihatkan penguatan indeks tidak terjadi secara merata di seluruh kelompok saham.

Likuiditas pasar tetap terjaga dengan nilai transaksi sebesar Rp14,7 triliun. Sebanyak 419 saham menguat, sementara 248 saham turun dan 296 saham stagnan.

Saham LQ45 turut memberikan dorongan bagi indeks. WIFI meningkat 9,5 persen, sedangkan INDY menguat 5,08 persen pada akhir perdagangan.

Kenaikan tajam juga terlihat pada sejumlah saham yang mencapai batas Auto Rejection Atas atau ARA. KIJA, JARR, INET, ASLI, TEBE, BYAN, dan PGUN termasuk dalam daftar saham yang menyentuh batas kenaikan tertinggi tersebut.

Investor Daily mencatat KIJA sebagai salah satu saham dengan penguatan terbesar setelah naik 34,9 persen. PADA meningkat 33,3 persen dan JARR menguat 24,8 persen.

Anggaran Negara Menjadi Perhatian

Pelaku pasar juga mencermati respons terhadap RAPBN 2027 sebagai salah satu faktor yang mendukung sentimen domestik. Pilarmas Investindo Sekuritas menilai rancangan anggaran itu mencerminkan optimisme pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Menurut Pilarmas, penguatan pasar domestik berlangsung ketika sentimen eksternal belum kondusif. Kondisi tersebut menempatkan faktor dalam negeri sebagai penopang utama pergerakan indeks pada perdagangan itu.

Risiko global antara lain muncul dari berakhirnya kesepakatan gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran tanpa perpanjangan. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan tersebut.

Pasar juga memperhatikan tanda perlambatan di China. Pertumbuhan penjualan ritel tahunan turun menjadi 0,6 persen dari 1 persen, sedangkan pertumbuhan kumulatif Januari hingga Juli turun menjadi 1,2 persen dari 1,3 persen.

Di tengah kenaikan indeks, tekanan masih menimpa beberapa saham. TCPI turun 15 persen, BAIK melemah 14,8 persen, dan STAR terkoreksi 9,9 persen.

Penguatan energi, saham LQ45, dan transaksi yang tinggi menjaga IHSG di zona positif. Meski demikian, perkembangan ekonomi China serta ketegangan Timur Tengah masih menjadi risiko yang membayangi pasar.

Baca Juga