Dari Jakarta 99,96% ke Papua 30,64%, Jurang Akses Air Layak Masih Menganga

Jurang akses air minum layak di Indonesia tampak jelas dari perbandingan capaian antardaerah. DKI Jakarta mencapai 99,96%, sedangkan Papua Pegunungan hanya mencatat 30,64% dalam data yang disebutkan.

Perbedaan itu menjadi gambaran bahwa tingginya angka nasional belum berarti layanan air telah merata. Di wilayah tertentu, warga masih perlu berjalan jauh untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan sebagian warga harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer hanya untuk mengambil satu hingga dua dirijen air bersih. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (14/8/2026).

Perkotaan Lebih Terlayani

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kesenjangan layanan juga terlihat antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Akses di kota mencapai 96,56%, sementara perdesaan berada pada 87,06%.

Wilayah/KelompokAkses Air Minum LayakPosisi dalam Data
DKI Jakarta99,96%Tertinggi
Perkotaan96,56%Di atas rata-rata perdesaan
Perdesaan87,06%Masih tertinggal
Papua Pegunungan30,64%Terendah

Kesenjangan ini berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur distribusi, bukan semata-mata keberadaan sumber air. Wilayah yang sulit dijangkau memerlukan layanan yang mampu membawa air aman lebih dekat ke rumah warga.

Data BNPB dan Kementerian PU per Maret 2025 mencatat sekitar 28 juta warga Indonesia masih kesulitan mendapatkan air minum layak setiap hari. Sebanyak 7,36% penduduk juga belum terlayani.

Air Terbatas, Risiko Kesehatan Meningkat

Keterbatasan pasokan air berdampak langsung pada kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarga. Air diperlukan untuk minum, mandi, berwudhu, mengairi tanaman, serta merawat ternak.

Kementerian Kesehatan RI menyebut anak-anak di kawasan dengan akses air perpipaan minim lebih rentan mengalami infeksi pencernaan berulang. Salah satu gangguan yang dapat muncul adalah diare kronis.

Infeksi berulang berpotensi mengganggu penyerapan nutrisi anak. Kondisi itu berkaitan dengan meningkatnya risiko stunting, terutama ketika keluarga tidak memiliki akses air aman secara memadai.

Volume air yang menyusut drastis juga dapat meningkatkan konsentrasi bakteri seperti E. coli dan polutan. Risiko tersebut dihadapi warga yang terpaksa menggunakan air tersisa tanpa pilihan sumber yang lebih aman.

Kemarau Memperberat Pasokan

Water Indonesia 2026 menilai musim kemarau berkepanjangan dapat memperumit penyediaan air. Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara disebut menghadapi tekanan lebih besar ketika curah hujan berkurang lama.

BMKG memperkirakan El Nino berlangsung sekitar delapan hingga sembilan bulan dari pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027. Kondisi ini secara umum dapat menyebabkan cuaca lebih kering di Indonesia.

Penurunan curah hujan dapat menekan pertanian padi pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Ancaman kebakaran hutan dan lahan juga meningkat ketika kondisi kering berlangsung.

3.000 Titik Air Desa Dibangun

Pemerintah terus membangun titik air desa untuk membantu wilayah yang kekurangan pasokan. Prabowo menyebut TNI telah membangun 3.000 titik dalam delapan bulan pertama 2026.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya memperluas layanan air bagi warga. Namun, selisih besar antara capaian kota dan daerah terpencil menunjukkan pemerataan masih menjadi tantangan utama.

Baca Juga