Indonesia memasuki Kejuaraan Dunia 2026 dengan satu beban yang belum terlepas selama tujuh tahun, yakni ketiadaan gelar juara dunia sejak 2019. Jonatan Christie serta Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjadi dua wakil yang paling disorot untuk memutus rentang tersebut.
Target itu tidak ringan karena Indonesia belum mampu mengantar wakilnya kembali ke podium tertinggi setelah keberhasilan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Kejuaraan Dunia 2026 menjadi kesempatan berikutnya untuk mengembalikan tradisi juara yang sempat terhenti.
Jejak panjang penantian Indonesia
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi pasangan terakhir yang meraih gelar dunia untuk Indonesia pada 2019. VIVA menyebut keberhasilan itu terjadi di nomor ganda putra, sektor yang kembali diharapkan lewat Fajar/Fikri.
Rentang tanpa gelar kali ini termasuk salah satu yang terpanjang bagi Indonesia sejak Kejuaraan Dunia berlangsung rutin setiap tahun, kecuali pada tahun Olimpiade. Situasi tersebut pernah dialami Indonesia dalam periode 2007 hingga 2013.
Nova Widianto/Liliyana Natsir membawa pulang gelar pada 2007. Enam tahun kemudian, Indonesia kembali menjadi juara melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Ahsan/Hendra.
Indonesia juga tidak mengirim pemain Pelatnas Cipayung ke Kejuaraan Dunia 2021. Namun, tidak adanya partisipasi pada edisi tersebut tidak mengubah fakta bahwa gelar terakhir Indonesia masih tercatat pada 2019.
Fajar/Fikri datang dengan tren positif
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri membawa bekal paling segar menjelang turnamen. Mereka baru menjuarai turnamen di Jepang dan China, dua ajang terakhir sebelum Kejuaraan Dunia 2026.
Hasil tersebut menempatkan pasangan ganda putra ini sebagai salah satu andalan utama Indonesia. Kemampuan menjaga performa akan menjadi faktor krusial ketika persaingan memasuki babak-babak akhir.
| Wakil | Nomor | Catatan penting |
|---|---|---|
| Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri | Ganda putra | Juara di Jepang dan China |
| Jonatan Christie | Tunggal putra | Berstatus salah satu unggulan |
| Putri Kusuma Wardani | Tunggal putri | Perunggu Kejuaraan Dunia 2025 |
Jonatan membawa jalur harapan dari sektor tunggal putra. Sebagai salah satu unggulan, ia memiliki posisi yang memberi peluang untuk bersaing lebih jauh di turnamen tersebut.
Pengalamannya dalam kompetisi level besar menjadi modal pendukung bagi ambisi Indonesia. Meski demikian, persaingan tunggal putra menuntut setiap unggulan menjaga permainan sejak awal hingga laga penentuan.
Medali 2025 dan peluang wakil lain
Putri Kusuma Wardani membuktikan Indonesia masih dapat menembus podium pada Kejuaraan Dunia 2025. Pemain tunggal putri itu menyumbang satu-satunya medali Indonesia berupa perunggu.
Catatan tersebut memberi gambaran bahwa Indonesia masih memiliki daya saing, tetapi kebutuhan pada 2026 lebih besar. Meraih medali belum cukup untuk menghentikan puasa gelar yang telah berjalan sejak 2019.
Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Alwi Farhan turut masuk daftar wakil yang berpotensi memberi kejutan. Kehadiran mereka memperluas peluang Indonesia di luar nama-nama unggulan utama.
Komposisi tim memadukan pemain berpengalaman, pasangan yang sedang menikmati hasil positif, dan wakil muda. Keberhasilan mereka akan bergantung pada kemampuan memanfaatkan peluang ketika kompetisi mencapai fase paling menentukan.
Fajar/Fikri dan Jonatan memikul sorotan terbesar, tetapi perjalanan Indonesia tidak berhenti pada dua nama tersebut. Seluruh wakil akan berusaha menjadikan Kejuaraan Dunia 2026 sebagai titik akhir penantian gelar yang semakin panjang.






