Indonesia Disebut Aman dari Krisis Pangan, tetapi Daging Masih Belum Swasembada

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kondisi makanan di Indonesia aman ketika dunia menghadapi kekhawatiran kelaparan massal, kesulitan pangan, dan cuaca yang tidak menentu. Meski demikian, ia mengakui target swasembada belum berhasil dicapai pada seluruh komoditas, termasuk daging.

Kontras antara ketersediaan pangan saat ini dan target kemandirian jangka panjang itu disampaikan dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026. Prabowo menyebut ketahanan pangan sebagai hasil kerja bersama sejumlah unsur pemerintah dan masyarakat.

El Nino menjadi salah satu tantangan yang disinggung dalam pidatonya. Prabowo mengatakan Indonesia mampu menghadapi kondisi yang disebutnya sebagai El Nino paling dahsyat pada tahun ini.

“Di tengah dunia yang sangat khawatir terhadap kelaparan massal akibat kesulitan pangan dan cuaca yang tidak menentu, kita alhamdulillah, dapat saya laporkan di majelis ini, soal makanan di Indonesia, kita aman,” ujar Prabowo. Pernyataan itu menjadi penegasan pemerintah mengenai kondisi pasokan makanan nasional.

Kerja bersama sektor pertanian

Prabowo memberikan apresiasi kepada Menteri Pertanian dan para penyuluh pertanian atas upaya penguatan pangan. Ia juga menyebut kontribusi kementerian lain, pemerintah daerah, TNI, serta Polri dalam kerja gotong royong tersebut.

Menurutnya, kolaborasi itu menghasilkan prestasi yang diakui dunia. Namun, ia menegaskan bahwa hasil tersebut belum berarti seluruh target swasembada telah terpenuhi.

Swasembada daging disebut secara langsung sebagai salah satu pekerjaan yang masih harus dituntaskan. Pengakuan itu disampaikan bersamaan dengan penilaian bahwa kondisi pangan secara umum tetap terjaga.

Dengan demikian, pemerintah membedakan antara keamanan pangan dan kemampuan memenuhi seluruh kebutuhan dari produksi sendiri. Pasokan makanan dinyatakan aman, sementara kemandirian pada sejumlah komoditas masih menjadi agenda lanjutan.

Dividen BUMN diproyeksikan meningkat

Dalam pidato yang sama, Prabowo menyoroti kenaikan kinerja BUMN pada 2025. Ia menyebut keuntungan perusahaan negara mencapai Rp326 triliun atau bertumbuh 75,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

IndikatorNilaiCatatan
Laba BUMN 2025Rp326 triliunNaik 75,3 persen
Dividen BUMN 2024Rp53 triliunAngka pembanding
Proyeksi dividen 2026Hingga Rp200 triliunTanpa PMN

Prabowo menyebut dividen BUMN yang disampaikan dalam pidatonya mencapai Rp142,3 triliun. Untuk 2026, dividen diproyeksikan kembali meningkat hingga Rp200 triliun tanpa penyertaan modal negara.

“Dividen BUMN di tahun 2026 ini diproyeksikan kembali naik sampai dengan 200 triliun, tanpa ada PMN,” kata Prabowo. Bila dibandingkan dengan Rp53 triliun pada 2024, proyeksi tersebut menunjukkan kenaikan hampir empat kali lipat dalam dua tahun.

Apresiasi bagi pengelola ekonomi

Prabowo juga menyinggung peran Danantara dalam pengelolaan BUMN di luar teks resmi pidato. Ia menilai keberhasilan dapat datang cepat melalui manajemen yang menggunakan akal sehat dan tidak berniat menipu.

Ia menyatakan Danantara pantas mendapatkan kehormatan pada momentum Hari Kemerdekaan. Pernyataan itu disampaikan sambil meminta tanggapan dari majelis.

Pujian turut diarahkan kepada tim ekonomi kabinet, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan Purbaya Yudha Sadewa. Prabowo mengatakan, “Kalau Menteri keuangan senyum, saya merasa aman.”

Pidato tersebut memperlihatkan dua perhatian pemerintah yang berjalan beriringan, yakni menjaga pasokan pangan dan memperkuat hasil pengelolaan perusahaan negara. Pada saat yang sama, target swasembada daging masih dicatat sebagai tantangan yang belum selesai.

Baca Juga