Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat muncul di tengah blokade berkepanjangan terhadap pelabuhan Iran dan ketidakpastian pelayaran di Selat Hormuz. Situasi itu semakin rumit setelah Donald Trump menyatakan niat untuk mendeklarasikan selat tersebut sebagai wilayah Amerika Serikat.
Rencana itu berisiko memperpanjang gejolak di jalur laut yang menyalurkan hampir sepertiga minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut. Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu titik paling sensitif bagi perdagangan energi internasional.
Blokade Menjadi Pusat Ketegangan
Amerika Serikat disebut masih menjalankan blokade ketat di sekitar pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Trump menggambarkan keberadaan militer AS di kawasan itu sebagai kekuatan yang tidak dapat ditembus lawan.
Ia menyebut blokade tersebut “tidak terbendung” dan sebagai “tembok baja”. Namun, kebijakan itu sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap pemerintahannya karena harga bahan bakar di dalam negeri naik.
Iran mengambil sikap berlawanan dengan menolak pembicaraan untuk membuka akses pelayaran sebelum blokade Amerika Serikat dihentikan sepenuhnya. Teheran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali dan pengelolaannya.
| Aspek | Amerika Serikat | Iran |
|---|---|---|
| Kebijakan di kawasan | Menjalankan blokade di sekitar pelabuhan utama Iran | Menolak membuka akses pelayaran |
| Posisi atas selat | Trump ingin mendeklarasikan selat sebagai wilayah AS | Menegaskan kedaulatan selat tidak dapat diganggu gugat |
| Dampak yang disorot | Kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri | Jalur pelayaran tetap tertutup selama blokade berlangsung |
Niat Deklarasi Setelah Pertempuran
Suara.com, yang mengutip Al Jazeera, melaporkan Trump menyampaikan pernyataan itu dalam pidato di sebuah akademi kepolisian di negara bagian New York pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia mengatakan deklarasi akan dilakukan setelah pertempuran melawan Iran berakhir.
“Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang saat ini sedang dikalahkan dengan sangat parah, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump. Ucapan itu memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi hanya menyangkut tekanan terhadap Iran, tetapi juga penguasaan koridor maritim internasional.
Trump meminta publik Amerika Serikat memahami kenaikan biaya bahan bakar sebagai dampak dari kebijakan tersebut. Ia mengaitkan operasi terhadap Iran dengan tujuan menutup akses Teheran terhadap senjata nuklir.
“Kalian hanya perlu mengingat bahwa apa yang kami lakukan ini merupakan jasa besar bagi dunia,” ujar Trump. Pernyataan itu disampaikan ketika tekanan publik atas biaya perang terhadap pemerintahannya meningkat.
Taruhan bagi Perdagangan Minyak
Gangguan di Selat Hormuz segera memengaruhi kekhawatiran atas pasokan energi di berbagai negara. Karena volume minyak yang melintas sangat besar, perubahan situasi keamanan di kawasan dapat memperpanjang volatilitas harga komoditas.
Konflik terbuka antara aliansi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut telah berlangsung sejak akhir Februari. Belum ada kepastian mengenai waktu berakhirnya bentrokan bersenjata tersebut.
Selama kedua pihak mempertahankan posisi keras, pembukaan kembali jalur pelayaran belum terlihat. Selat Hormuz pun tetap menjadi penentu penting bagi stabilitas perdagangan minyak dunia dan arah gejolak energi global.






