Perhatian pasar terhadap evaluasi indeks MSCI mulai memudar, sementara agenda pengisian jabatan di Bank Indonesia mengambil peran lebih besar. Perubahan fokus itu berlangsung ketika rupiah ditutup tetap di Rp17.877 per dolar AS pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Pelaku pasar menilai kepastian susunan pimpinan bank sentral penting untuk membaca arah kebijakan moneter. Ketidakpastian tersebut membuat pergerakan rupiah masih cenderung terbatas meski tekanan dari sentimen indeks global tidak lagi dominan.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan stabilnya rupiah dipengaruhi oleh dua hal utama. Euforia atas pengumuman MSCI mereda, sedangkan perhatian pasar bergeser kepada calon Deputi Gubernur BI.
“Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI,” ujar Rully. Penilaian tersebut menunjukkan investor tengah mencari sinyal baru dari kebijakan domestik.
Nama Calon Pimpinan Bank Indonesia
Pemerintah telah mengirim Surat Presiden untuk mengisi jabatan Deputi Gubernur Senior BI. Aida S Budiman diajukan sebagai calon bagi posisi tersebut.
Selain itu, pemerintah mengusulkan Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori untuk jabatan Deputi Gubernur BI. Pasar mencermati proses ini karena komposisi pimpinan BI berkaitan dengan penilaian terhadap langkah moneter ke depan.
Fokus pada pengisian jabatan tersebut muncul di tengah kebutuhan investor akan kepastian. Arah kebijakan bank sentral menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pelaku pasar dalam menilai stabilitas nilai tukar.
JISDOR Bergerak Berlawanan dengan Kurs Spot
Di pasar spot, rupiah bertahan pada Rp17.877 per dolar AS, sama seperti posisi sebelumnya. Namun, JISDOR yang dicatat Bank Indonesia menunjukkan pelemahan tipis menjadi Rp17.882 per dolar AS.
| Indikator Kurs | Sebelumnya | 13 Agustus 2026 |
|---|---|---|
| Rupiah di pasar spot | Rp17.877 per dolar AS | Rp17.877 per dolar AS |
| JISDOR Bank Indonesia | Rp17.876 per dolar AS | Rp17.882 per dolar AS |
Kenaikan JISDOR tersebut memperlihatkan bahwa kehati-hatian pasar belum sepenuhnya menghilang. Investor masih menimbang faktor kebijakan dalam negeri bersama risiko yang datang dari luar negeri.
Evaluasi Indeks Global Berlaku Awal September
MSCI mengumumkan hasil MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review pada 12 Agustus 2026 waktu Central European Summer Time. Perubahan komposisi itu dijadwalkan berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Dalam MSCI Global Standard Index, dua saham Indonesia dikeluarkan tanpa ada saham baru dari Indonesia yang masuk. Penyesuaian lebih besar terjadi pada MSCI Global Small Cap Index.
| Kelompok Indeks | Masuk | Keluar |
|---|---|---|
| MSCI Global Standard Index | Tidak ada saham Indonesia | 2 saham Indonesia |
| MSCI Global Small Cap Index | 1 saham Indonesia | 9 saham Indonesia |
Penyesuaian tersebut sempat memengaruhi sentimen pada pasar saham domestik dan aset keuangan Indonesia. Meski begitu, pasar kini tidak hanya mengandalkan perkembangan MSCI untuk menentukan posisi terhadap rupiah.
Negosiasi AS dan Iran Belum Memberi Terobosan
Dari pasar global, perkembangan konflik Timur Tengah masih menjadi faktor yang diperhatikan. Hubungan Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti dalam negosiasi, sehingga investor tetap berhati-hati.
Rully mencatat indeks telah stabil di bawah 100 serta harga minyak mulai melandai. Namun, kombinasi ketidakpastian geopolitik dan penantian atas arah kebijakan BI masih akan membatasi optimisme pasar terhadap rupiah.






