Ribuan Meteorit Tersingkap di Es Biru Antarktika, Angin Menjadi Kuncinya

Di tengah permukaan es yang terang, batuan gelap dapat terlihat menonjol dan memudahkan pencarian meteorit di Antarktika. Kawasan es biru menjadi lokasi paling produktif karena salju permukaannya telah banyak tersingkir.

NASA menyatakan hampir seluruh meteorit Antarktika ditemukan di area blue ice. Lapisan es padat yang lebih tua menjadi latar kontras bagi benda-benda yang tampak tidak lazim di atas permukaan.

Warna Gelap Tidak Langsung Menjadi Bukti

Peneliti menyisir es biru dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan salju. Mereka mencari batuan yang berbeda warna dan bentuk dari kondisi lingkungan sekitarnya.

Namun, objek gelap di atas es belum tentu meteorit. Batuan dari Bumi juga dapat muncul di permukaan, sehingga setiap sampel harus melewati pemeriksaan dan klasifikasi laboratorium.

Keberadaan meteorit di permukaan juga bergantung pada suhu. Lokasi pencarian yang baik umumnya mempertahankan temperatur di bawah sekitar minus 9 derajat Celsius hampir sepanjang waktu.

Batuan gelap dapat menyerap energi Matahari jika suhu terlalu tinggi. Es di bawahnya lalu berpotensi mencair, membuat meteorit perlahan tenggelam dan tidak lagi terlihat.

Angin dan Sublimasi Membuka Lapisan Es

Es biru tidak terbentuk hanya karena kondisi suhu rendah. Angin katabatik ikut menjaga permukaan dengan menghambat akumulasi salju baru dan mengikis es bagian atas.

Angin dingin serta kering ini mengalir dari dataran tinggi ke wilayah yang lebih rendah. Pada saat yang sama, sebagian es menghilang melalui sublimasi, yakni perubahan es langsung menjadi uap.

Meteorit yang berada di dalam es tidak ikut hilang ketika sublimasi terjadi. Akibatnya, batuan yang semula terkubur dapat muncul sedikit demi sedikit di permukaan.

Kondisi AlamFungsi di Area Pencarian
Es biruMenyediakan latar terang bagi batuan gelap
Angin katabatikMenghambat penumpukan salju dan mengikis permukaan
SublimasiMengurangi es tanpa menghilangkan meteorit
Suhu rendahMengurangi risiko meteorit tenggelam ke es

Gletser Membawa Meteorit ke Titik yang Sama

Sebelum tersingkap di es biru, banyak meteorit terlebih dahulu menjalani perjalanan panjang di dalam gletser. Setelah jatuh, batuan itu dapat tertutup salju yang terus menumpuk dan kemudian memadat menjadi es.

Berat lapisan es membuat gletser bergerak perlahan. Meteorit yang terjebak di dalamnya ikut berpindah selama ribuan hingga ratusan ribu tahun.

Pegunungan atau penghalang lain dapat memperlambat dan membelokkan aliran es. Proses ini membantu mengarahkan banyak meteorit ke area yang sama, yang dikenal sebagai meteorite stranding zones.

Kecepatan aliran es perlu berada pada kondisi yang sesuai untuk membentuk konsentrasi temuan. Jika alirannya terlalu cepat, meteorit dapat terbawa pergi sebelum terkumpul dalam jumlah besar.

Arsip Batuan dari Tata Surya

Lebih dari 45.000 meteorit telah ditemukan di Antarktika sejak penemuan terdokumentasi pertama pada 1912. NASA memperkirakan hingga sekitar 300.000 batuan luar angkasa lain masih tersimpan di permukaan atau dekat permukaan es.

Lingkungan yang sangat dingin dan kering memperlambat pelapukan pada batuan tersebut. Sebagian temuan diperkirakan telah jatuh ke Bumi lebih dari satu juta tahun lalu.

Sekitar 99,8% meteorit Antarktika berasal dari asteroid, menurut NASA. Sebagian kecil lainnya berasal dari Bulan dan Mars, sehingga setiap sampel dapat memberi petunjuk mengenai material di Tata Surya.

Di wilayah lain, meteorit dapat segera tertutup tanah, air, atau tumbuhan dan bercampur dengan batuan setempat. Antarktika justru menyatukan es, angin, pegunungan, dan kondisi kering untuk menampilkan batuan luar angkasa tersebut.

Baca Juga