El Nino Bisa Berlangsung hingga 2027, Prabowo Nilai Pangan Indonesia Tetap Aman

Fenomena El Nino di Pasifik diperkirakan berlangsung sekitar delapan hingga sembilan bulan, dari pertengahan 2026 sampai kuartal pertama 2027. Periode ini menimbulkan perhatian karena Indonesia berpotensi menghadapi kondisi lebih kering dan mundurnya awal musim hujan.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan pangan Indonesia berada dalam keadaan aman di tengah ancaman tersebut. Ia menilai capaian swasembada pangan memberi dasar bagi Indonesia untuk menghadapi risiko cuaca yang dapat menekan produksi pertanian.

Kekeringan menjadi isu penting karena pasokan air sangat menentukan kondisi tanam, terutama bagi padi. Berkurangnya curah hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027 dapat menjadi tantangan langsung bagi sektor pangan.

Keterlambatan musim hujan juga dapat memengaruhi jadwal tanam di berbagai wilayah. Karena itu, dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan satu periode musim, melainkan dapat berlanjut ke tahapan produksi pertanian berikutnya.

Indeks Nino 3.4 Menentukan Intensitas

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini meningkatkan peluang pembentukan awan di Pasifik tengah dan dapat mengurangi curah hujan di Indonesia.

BMKG mengelompokkan El Nino berdasarkan nilai indeks Nino 3.4. Kondisi tersebut dinyatakan sebagai El Nino apabila indeks berada dalam kategori El Nino secara konsisten selama lima bulan berturut-turut.

KategoriIndeks Nino 3.4Intensitas
Lemah0,5 hingga 1,0El Nino lemah
Moderat1,0 hingga 2,0El Nino moderat
KuatLebih dari 2,0El Nino kuat

Kategori tersebut membantu membaca tingkat gangguan cuaca yang mungkin muncul secara global maupun regional. Namun, dampak El Nino tidak selalu seragam karena tiap negara memiliki pola hujan dan kondisi geografis yang berbeda.

Indonesia lazimnya merasakan dampak dalam bentuk penurunan curah hujan dan kondisi yang lebih kering. Di sejumlah wilayah Amerika Latin, seperti Peru, fenomena yang sama justru dapat meningkatkan curah hujan.

Swasembada Menjadi Penyangga

Prabowo menyampaikan kondisi pangan Indonesia dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 serta Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia mengatakan target swasembada pangan yang sebelumnya dipasang untuk empat tahun telah tercapai dalam satu tahun.

“Kita alhamdulillah dapat saya laporkan di majelis ini soal pangan, soal makanan untuk rakyat Indonesia kita berada dalam keadaan aman dan kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Nino, yang katanya tahun ini El Nino-nya akan berat, berarti El Nino yang paling dahsyat,” kata Prabowo.

Pernyataan itu muncul ketika sejumlah negara menghadapi kekhawatiran atas kesulitan pangan, cuaca yang tidak menentu, dan potensi kelaparan massal. Pemerintah melihat Swasembada Pangan sebagai modal penting untuk menjaga pasokan selama periode kering.

Prabowo juga menyebut capaian tersebut diperoleh melalui keberanian menghadapi persoalan. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan pemerintah bahwa produksi dan pasokan pangan dapat tetap dijaga di tengah risiko perubahan cuaca.

Karhutla Ikut Perlu Diwaspadai

Selain mengganggu pertanian, periode kering dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Ancaman ini menjadi dampak lanjutan yang perlu diperhatikan selama El Nino berlangsung.

Perkembangan curah hujan akan menjadi salah satu indikator penting hingga kuartal pertama 2027. Kesiapan menghadapi kekeringan dan menjaga air bagi pertanian menjadi bagian penting dalam perlindungan pasokan pangan nasional.

Baca Juga