Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah berkurang 81.250 orang dalam rentang Maret 2025 hingga Maret 2026. Pada periode terakhir, tingkat kemiskinan tercatat 9,21 persen atau setara 3,29 juta penduduk.
Penurunan tersebut berlangsung saat ekonomi Jawa Tengah tumbuh kumulatif 5,80 persen pada Semester I 2026. Capaian pertumbuhan itu disebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.
Penurunan Kemiskinan Berlanjut
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2025 masih berada di angka 9,48 persen. Persentasenya kemudian turun menjadi 9,39 persen pada September 2025 sebelum mencapai 9,21 persen pada Maret 2026.
Dalam enam bulan menuju Maret 2026, jumlah penduduk miskin berkurang 59.390 orang dibandingkan September 2025. Secara persentase, penurunannya mencapai 0,18 poin persentase dalam periode tersebut.
| Periode | Tingkat Kemiskinan | Perubahan |
|---|---|---|
| Maret 2025 | 9,48 persen | — |
| September 2025 | 9,39 persen | Turun 0,09 poin |
| Maret 2026 | 9,21 persen | Turun 0,18 poin |
Kepala BPS Jawa Tengah Ali Said menyatakan persentase Kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 lebih rendah daripada dua periode pengukuran sebelumnya. Dalam setahun, tingkat kemiskinan turun 0,27 poin persentase dari posisi Maret 2025.
Kontribusi Besar bagi Ekonomi Nasional
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah pada Semester I 2026 turut menempatkan provinsi ini sebagai kontributor ekonomi terbesar keempat secara nasional. Jawa Tengah memiliki porsi 14,50 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 8,19 persen terhadap perekonomian nasional.
Ali memaparkan capaian tersebut dalam jumpa pers daring pada Rabu, 5 Agustus 2026. Angka pertumbuhan kumulatif 5,80 persen menjadi konteks penting di balik penurunan tingkat kemiskinan selama periode pengukuran terakhir.
| Indikator Ekonomi | Capaian Semester I 2026 |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi kumulatif | 5,80 persen |
| Kontribusi ke ekonomi Pulau Jawa | 14,50 persen |
| Kontribusi ke ekonomi nasional | 8,19 persen |
| Peringkat nasional | Keempat |
Modal Masuk dan Penyerapan Kerja
Realisasi Investasi Jawa Tengah sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp48,54 triliun dari 55.989 proyek. Aktivitas investasi tersebut menyerap 213.217 tenaga kerja di berbagai sektor usaha.
Investasi pada triwulan I tercatat Rp23,02 triliun, lalu meningkat menjadi Rp25,53 triliun pada triwulan II. Kenaikan pada triwulan II mencapai 10,88 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Penanaman Modal Asing menyumbang Rp25,92 triliun atau 53,40 persen dari total realisasi. Penanaman Modal Dalam Negeri mencapai Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah Sakina Rosellasari mengatakan pertumbuhan investasi terjadi saat kondisi geopolitik global masih tidak menentu. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun mendorong pengembangan kawasan industri di sejumlah daerah untuk menopang kelanjutan investasi.
Pengembangan kawasan industri ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan memudahkan investor menjalankan proyeknya. Pemerintah daerah juga mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam pembangunan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut pembangunan tidak dapat dijalankan pemerintah secara sendiri-sendiri. Tema Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah, “Gumregut Nyawiji”, turut menegaskan semangat gotong royong tersebut.






