Dua Keluarga Terisolasi di Qusra, AS Desak Israel Jelaskan Respons Militernya

Dua keluarga Palestina dilaporkan terisolasi di dalam rumah mereka di Desa Qusra, Tepi Barat, setelah dikepung pemukim Israel. Ketika kebutuhan pokok menipis dan bantuan kemanusiaan tidak dapat diakses, Amerika Serikat meminta penjelasan dari Israel.

Washington menilai situasi tersebut memunculkan pertanyaan serius tentang perlindungan warga sipil. Pejabat AS secara khusus mempertanyakan mengapa tentara Israel tidak mencegah bahaya terhadap keluarga Palestina yang terkepung.

Warga Sipil Kehilangan Akses Bantuan

Pengepungan dilaporkan telah berlangsung sejak Minggu, 9 Agustus 2026. Memasuki hari keempat, dua keluarga itu masih menghadapi keterbatasan pasokan kebutuhan dasar.

Kondisi terisolasi membuat akses terhadap bantuan kemanusiaan tidak tersedia bagi keluarga tersebut. Nasib mereka kemudian menjadi perhatian utama dalam komunikasi diplomatik antara AS dan Israel.

Kelompok hak asasi manusia telah menyampaikan seruan mendesak mengenai perlindungan bagi warga yang dikepung. Meski demikian, belum terlihat langkah dari aparat Israel untuk melindungi warga sipil yang berada di dalam rumah.

AS Minta Penjelasan Segera

Pejabat senior Amerika Serikat dilaporkan menyampaikan kemarahan kepada rekan-rekan mereka dari Israel. Mereka terkejut saat membahas memburuknya keamanan di Qusra dan meminta penjelasan atas insiden tersebut.

Yedioth Ahronoth pada Rabu, 12 Agustus 2026, melaporkan bahwa pejabat Amerika mempertanyakan kegagalan militer Israel menghentikan kekerasan. Pertanyaan itu mengarah pada kewajiban Israel mencegah ancaman terhadap warga Palestina yang terjebak.

“Para pejabat Amerika mengatakan dalam percakapan dengan rekan-rekan dari Israel bahwa mereka terkejut dengan insiden tersebut dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi,” tulis harian tersebut. Kutipan itu menggambarkan kekhawatiran AS atas kondisi keamanan yang memburuk di desa itu.

Sorotan terhadap Kendali Aparat

Selain menuntut perlindungan langsung bagi warga, diplomat AS menyoroti persoalan penegakan hukum dan ketertiban di wilayah pendudukan. Mereka mempertanyakan seberapa jauh Israel mengendalikan aparat keamanannya sendiri.

Menurut pemberitaan Yeni Safak, pihak Amerika mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya anarki di Israel. Mereka juga mempertanyakan bagaimana tentara tidak mampu mencegah bahaya yang dihadapi warga Palestina.

“Pihak Amerika mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit mengenai apakah terdapat anarki di Israel dan bagaimana mungkin tentara tidak mencegah bahaya terhadap warga Palestina,” tambah laporan tersebut. Dengan demikian, respons aparat Israel menjadi fokus utama tekanan yang disampaikan Washington.

Kekerasan pemukim Israel terhadap warga sipil Palestina disebut memicu frustrasi yang meningkat di pihak AS. Untuk insiden Qusra, desakan Washington tetap menuntut kejelasan mengenai absennya perlindungan bagi dua keluarga yang terkepung.

Baca Juga