Indeks dolar AS turun ke level terendah sejak awal Juni ketika pasar mengubah perkiraan mengenai kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Pergeseran itu turut mengangkat yen Jepang, euro, dan yuan China terhadap dolar.
Fokus investor kini tertuju pada simposium Jackson Hole yang akan berlangsung pekan depan. Forum tersebut dipantau sebagai ruang penting untuk membaca sinyal kebijakan moneter The Fed setelah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.
Data inflasi dan penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan mengubah perhitungan pelaku pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 30,8% dari 52,2% sebelumnya.
| Pasar | Pergerakan | Pendorong Utama |
|---|---|---|
| Indeks dolar AS | Terendah sejak awal Juni | Ekspektasi suku bunga berubah |
| Euro | Menguat 0,3% ke sekitar US$1,1614 | Tekanan pada dolar |
| Yen Jepang | Menguat 0,2% ke 159,04 per dolar AS | Menjelang Jackson Hole |
Yen Mendapat Ruang Menguat
Yen Jepang naik sekitar 0,2% ke 159,04 per dolar AS. Penguatan ini terjadi meski pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal kedua lebih lemah dari perkiraan pasar.
Mata uang Jepang masih belum jauh dari posisi terendah dalam empat dekade yang tercatat pada akhir Juli. Saat itu, Jepang dan AS melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan yen.
Pergerakan terbaru yen memperlihatkan bahwa faktor eksternal, terutama prospek suku bunga AS, masih sangat menentukan. Selisih imbal hasil antara kedua negara terus memengaruhi arus dana internasional dan arah transaksi mata uang.
Risiko Kenaikan Suku Bunga Belum Hilang
Turunnya peluang kenaikan suku bunga September tidak berarti pasar telah menutup seluruh kemungkinan pengetatan. Thomas Simons, Kepala Ekonom AS Jefferies, menilai data ekonomi yang tersedia masih memerlukan kewaspadaan.
“Masih terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data untuk membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun,” kata Simons. Pernyataan pejabat The Fed di Jackson Hole akan diamati untuk mengukur apakah risiko tersebut masih bertahan.
Pasar valuta asing cenderung bereaksi cepat terhadap perubahan ekspektasi kebijakan bank sentral. Jika prospek kenaikan suku bunga AS kembali menguat, dolar berpeluang mendapatkan dukungan sementara yen dapat kembali menghadapi tekanan.
Carry Trade Tetap Membayangi Yen
Intervensi valuta asing memang telah mengubah jalur pelemahan yen, tetapi belum menghapus insentif yang menopang carry trade. Strategi ini dilakukan dengan meminjam dana berbunga rendah, seperti yen, lalu menempatkannya pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
Matthew Tuttle, CEO Tuttle Capital Management, mengatakan, “Intervensi mengubah jalurnya. Namun, intervensi tersebut tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade.” Selisih tingkat bunga membuat kebijakan The Fed tetap relevan bagi strategi tersebut.
Selain yen, yuan China juga menguat terhadap dolar hingga mencapai level terendah dolar sejak 2023. Pergerakan itu berlangsung di tengah data produksi industri dan penjualan ritel China pada Juli yang lebih rendah dari perkiraan.
Pelaku pasar akan memantau data ekonomi lanjutan, komentar pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketiga faktor tersebut berpotensi menjaga volatilitas di pasar valuta asing dalam waktu dekat.






