Cahaya Buatan dari Orbit Disetujui, Dampaknya Bisa Mengubah Malam di Bumi

Cahaya tambahan dari orbit dinilai berpotensi mengubah lingkungan malam alami dalam skala planet. Kekhawatiran ini mencuat setelah FCC Amerika Serikat memberi persetujuan untuk pengujian satelit eksperimental milik Reflect Orbital.

Teknologi tersebut menggunakan cermin di orbit untuk memantulkan sinar Matahari ke titik tertentu di Bumi pada malam hari. Rencana itu memicu perdebatan karena manfaat energi dan penerangan berhadapan dengan risiko bagi astronomi, satwa, serta penerbangan.

Sejumlah presiden asosiasi kronobiologi internasional memperingatkan dampak skala penempatan orbit yang diusulkan. Mereka menilai cahaya malam buatan dapat memengaruhi pola tidur dan ritme sirkadian spesies yang bermigrasi.

“Skala penempatan orbit yang diusulkan akan menyebabkan perubahan signifikan pada lingkungan cahaya malam alami dalam skala planet,” kata mereka dalam pernyataan bersama yang dikutip Futurism. Peringatan itu menempatkan dampak ekologis sebagai isu penting di luar urusan teknis antariksa.

Risiko di Langit dan Jalur Penerbangan

Air Line Pilots Association (ALPA) menyatakan pendekatan Reflect Orbital terhadap keselamatan lalu lintas udara masih minim. Pantulan cahaya yang muncul pada malam hari dikhawatirkan menambah persoalan bagi aktivitas penerbangan.

Para astronom juga memandang teknologi itu sebagai ancaman bagi langit malam yang diperlukan untuk observasi. Pantulan berintensitas tinggi dapat masuk ke bidang pandang teleskop dan mengganggu pengamatan objek redup di angkasa jauh.

Gangguan tersebut tidak hanya berpengaruh pada hasil pemotretan langit. Teleskop profesional dan amatir dapat kehilangan kesempatan mengamati sasaran astronomi penting ketika cahaya terang melintas tanpa diperkirakan.

Menurut inet.detik.com, waktu dan lokasi lintasan satelit dikhawatirkan tidak diberitahukan kepada astronom. Situasi itu dapat membuat pengamat mengarahkan teleskop ke pantulan cahaya terang secara tidak sengaja.

Pengkritik bahkan menyebut pengamatan prototipe satelit pemantul Matahari melalui teleskop berdiameter 12 inci dapat merusak mata secara permanen. Diameter tersebut merupakan ukuran yang banyak digunakan penggemar astronomi.

Jejak Program Znamya

Risiko keselamatan mata memiliki preseden dari program Znamya Rusia pada dekade 1990-an. Rusia sempat meluncurkan dua satelit cermin eksperimental, tetapi program tersebut kemudian dibatalkan.

Penelitian Royal Astronomical Society of Canada pada 2000 menyatakan melihat Znamya dapat menimbulkan risiko kerusakan mata setara dengan menatap Matahari ketika gerhana total. Kajian itu kembali menjadi bahan pertimbangan dalam kritik terhadap pengujian cermin orbit.

FCC menerima hampir 2.000 komentar publik yang menentang rencana pengujian satelit cermin. Para pengkritik menilai risiko yang telah disampaikan kepada regulator dianggap terlalu kecil dibandingkan potensi manfaat inovasi antariksa.

Di sisi lain, Reflect Orbital menawarkan teknologi ini agar pembangkit listrik tenaga surya dapat tetap menghasilkan energi setelah Matahari terbenam. Perusahaan juga menargetkan penggunaan penerangan tersebut untuk wilayah yang menghadapi kondisi darurat.

Juru bicara Reflect Orbital, Christopher Buscombe, mengatakan perusahaan aktif berdiskusi dengan ilmuwan, astronom, peneliti lingkungan, dan pemangku kepentingan lain. Perdebatan itu terjadi ketika jumlah wahana di orbit rendah Bumi terus bertambah dan banyak satelit tampak semakin terang dari permukaan.

Wakil Direktur Eksekutif Royal Astronomical Society, Robert Massey, menilai langit berbintang adalah warisan penting umat manusia. Ia memperingatkan penempatan lebih dari satu juta satelit yang sangat terang dapat merusak lanskap alam dan memberi dampak permanen pada malam hari.

Baca Juga