BMKG Pastikan Gempa M 5,3 yang Mengguncang Marore Tak Menimbulkan Tsunami

BMKG memastikan gempa M 5,3 dari wilayah Mindanao, Filipina, tidak menimbulkan potensi tsunami meski guncangannya terasa di Kepulauan Sangihe. Gempa pada Jumat, 14 Agustus 2026, itu dirasakan hingga Kepulauan Marore dan Kendahe.

Hasil pemodelan tsunami telah dilakukan setelah peristiwa seismik tersebut terjadi. BMKG menyatakan masyarakat tidak perlu terpancing informasi yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan tidak ada ancaman tsunami dari gempa tersebut. “Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Wijayanto.

Wilayah yang Merasakan Guncangan

Kepulauan Marore mencatat intensitas IV MMI dari gempa tersebut. Sementara itu, Kendahe mengalami getaran dengan intensitas III MMI.

Perbedaan intensitas menunjukkan guncangan dirasakan dengan tingkat yang tidak sama di wilayah Kepulauan Sangihe. Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan warga untuk memperhatikan kondisi bangunan setelah gempa.

Warga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami retak akibat guncangan. Informasi lanjutan juga sebaiknya diperoleh hanya melalui kanal resmi BMKG.

Pemantauan Belum Mendeteksi Susulan

Hingga pukul 08.30 WIB, BMKG belum mencatat aktivitas gempa susulan setelah gempa utama terjadi. Pemantauan di sekitar episenter masih terus dilakukan oleh pihak berwenang.

Wijayanto menyampaikan bahwa hasil monitoring awal belum menunjukkan adanya aftershock. Keterangan tersebut disampaikan sekitar 16 menit setelah gempa terjadi pada pukul 08.14 WIB.

GempaLokasi AcuanMagnitudoKedalaman
14 Agustus 2026206 km barat laut TahunaM 5,332 km
13 Agustus 2026306 km barat laut MelonguaneM 5,810 km

Pusat Gempa di Laut Dekat Tahuna

Pusat gempa M 5,3 berada di laut, sekitar 206 kilometer di barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Hasil analisis pemutakhiran menempatkan episenter pada koordinat 5,46 Lintang Utara dan 125,29 Bujur Timur.

Sumber gempa berada pada kedalaman 32 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG mengaitkan peristiwa ini dengan aktivitas subduksi di Cotabato Trench.

Gempa dangkal tersebut berpotensi memiliki mekanisme sesar naik. Karakter sumber gempa dan hasil pemodelan tsunami kemudian menjadi dasar pernyataan bahwa tidak ada potensi tsunami.

Wilayah perairan di sekitar Sulawesi Utara dan Filipina selatan sebelumnya juga mengalami gempa. Pada Kamis, 13 Agustus 2026, gempa M 5,8 tercatat di laut sekitar 306 kilometer di barat laut Melonguane.

Gempa sehari sebelumnya memiliki kedalaman 10 kilometer. Kedua kejadian sama-sama tercatat di kawasan laut, tetapi gempa yang dirasakan di Sangihe pada 14 Agustus dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Masyarakat di daerah yang merasakan getaran diimbau tetap tenang sambil mengikuti informasi resmi. Pemeriksaan terhadap bangunan yang retak perlu menjadi perhatian sebelum warga kembali memasuki area tersebut.

Baca Juga