Begadang sering dikritik karena dapat mengurangi waktu istirahat, sedangkan mengumpat umumnya dianggap kebiasaan yang buruk. Meski demikian, beberapa penelitian mengaitkan kedua perilaku itu dengan kemampuan kognitif tertentu, berpikir kritis, atau keluasan kosakata.
Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa kebiasaan tertentu dapat menentukan tingkat IQ seseorang. Hubungan yang dibahas dalam berbagai studi lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan perilaku yang dapat muncul bersama kemampuan tertentu.
| No. | Perilaku | Hubungan yang Disebutkan |
|---|---|---|
| 1 | Begadang | Kemampuan kognitif dan berpikir kritis |
| 2 | Mengumpat | Kosakata lebih luas |
| 3 | Sarkas | Kreativitas |
| 4 | Berbicara sendiri | Fokus dan kejernihan pikiran |
| 5 | Mencorat-coret | Ingatan dan konsentrasi |
| 6 | Menunda tugas | Proses pengembangan ide |
| 7 | Ruang berantakan | Fokus pada gagasan rumit |
| 8 | Waktu sendiri | Refleksi dan kreativitas |
| 9 | Banyak bertanya | Rasa ingin tahu |
| 10 | Seni abstrak | Penafsiran dan pemahaman pola |
1. Begadang
Studi dalam BMJ Public Health menemukan kecenderungan bahwa orang yang begadang memiliki keterampilan kognitif dan berpikir kritis lebih tinggi dibandingkan mereka yang lebih produktif pada pagi hari. Hasil itu tidak berarti kurang tidur perlu ditiru karena riset tersebut hanya menunjukkan kaitan, bukan hubungan sebab-akibat.
2. Sering Mengumpat
Studi dalam Language Sciences menyebut orang yang cenderung mengumpat dapat memiliki koleksi kosakata lebih luas. Mengumpat juga disebut dapat berfungsi sebagai cara untuk meredakan ketegangan.
3. Sarkas
Penggunaan sarkasme membutuhkan kemampuan menangkap konteks dan memahami makna yang tidak disampaikan secara langsung. Studi dalam Organizational Behavior and Human Decision Processes mengaitkan sarkasme dengan peningkatan kreativitas.
4. Berbicara Sendiri
Dialog dengan diri sendiri dapat membantu seseorang ketika sedang mengolah informasi. Penelitian dalam The Quarterly Journal of Experimental Psychology mengaitkannya dengan daya ingat, fokus, konsentrasi, dan kejernihan pikiran.
5. Mencorat-coret
Coretan sederhana ketika rapat atau mendengarkan penjelasan tidak selalu mencerminkan kurangnya perhatian. Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Cognitive Psychology menemukan kegiatan ini dapat membantu fokus dan mengingat informasi.
6. Menunda-nunda
Menunda pekerjaan dapat menjadi hambatan apabila membuat tugas tidak selesai. Namun, studi dalam Journal of Research in Psychology mengaitkan kebiasaan itu dengan orang ber-IQ tinggi ketika penundaan digunakan untuk melakukan curah gagasan dan membayangkan proyek secara kreatif.
7. Nyaman dengan Ruang Berantakan
Ruang yang kacau kerap diasosiasikan dengan gangguan konsentrasi. Studi dalam Psychological Science justru mengaitkan kondisi tidak rapi dengan kreativitas dan kemampuan mengabaikan gangguan demi memikirkan gagasan lebih rumit.
8. Menikmati Kesendirian
Waktu sendiri dapat dimanfaatkan untuk memahami emosi pribadi, merenung, dan mengembangkan kegiatan kreatif. Studi dalam Journal of British Psychology menyebut sebagian orang cerdas dapat lebih puas saat melakukan hal tersebut daripada terlalu banyak bersosialisasi.
9. Banyak Bertanya
Rasa ingin tahu yang kuat kerap mendorong seseorang terus mengajukan pertanyaan. Perhatian itu dapat diarahkan pada topik tertentu, pengalaman orang lain, maupun cara sebuah proses bekerja.
10. Menikmati Seni Abstrak dan Musik Instrumental
Karya abstrak memberi keleluasaan bagi penikmatnya untuk membangun tafsir sendiri. Seni semacam itu dan musik instrumental dapat menarik bagi orang yang menikmati pola, keterlibatan kreatif, serta tantangan berpikir.
CNN Indonesia merangkum sejumlah studi yang menghubungkan perilaku tersebut dengan aspek kemampuan kognitif. Namun, kecerdasan tidak dapat disimpulkan dari kebiasaan tunggal karena setiap perilaku memiliki latar dan konteks yang berbeda.






