Saham BBCA bergerak melawan arah pasar pada perdagangan 13 Agustus 2026. Ketika IHSG terkoreksi 1,13%, saham PT Bank Central Asia Tbk naik 0,39% dan ditutup pada Rp 6.375.
Penguatan itu berlangsung di tengah pembelian bersih investor asing yang mencapai Rp 129,43 miliar. Nilai transaksi BBCA tercatat Rp 526,91 miliar dari volume perdagangan 83,21 juta saham.
Perhatian Pasar pada Fundamental BCA
Pergerakan berlawanan dengan indeks terjadi saat pasar mencermati kinerja BCA pada semester I-2026. Bank ini membukukan laba bersih Rp 29,5 triliun, meningkat 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pertumbuhan laba terjaga, BCA menghadapi tekanan pada margin bunga bersih atau NIM. Pendapatan non-bunga yang kuat membantu menahan pelemahan pendapatan bunga bersih pada periode tersebut.
Laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP tumbuh 2,5% secara tahunan. Kenaikan PPOP menjadi salah satu penyangga ketika ruang pertumbuhan pendapatan bunga bersih menghadapi tekanan.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai kinerja laba tersebut masih tangguh. “Laba bersih BCA (BBCA) pada semester I-2026 masih resilien, dengan pertumbuhan 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/yoy),” ujar Liza.
Kredit Korporasi Menjadi Motor
Total kredit Bank Central Asia pada akhir semester I-2026 mencapai Rp 1.035,6 triliun. Posisi tersebut naik 8% secara tahunan dan tumbuh 4,2% secara kuartalan.
Segmen korporasi menjadi pendorong yang paling menonjol dengan penyaluran kredit Rp 513,4 triliun. Kredit segmen ini meningkat 13,6% secara tahunan dan disebut Kiwoom sebagai salah satu penopang kinerja BBCA.
Pertumbuhan kredit konsumer justru melambat dibandingkan dorongan dari segmen korporasi. Pembiayaan kendaraan bermotor menjadi bagian yang tidak tumbuh sekuat kredit korporasi.
| Komponen | Nilai Semester I-2026 | Perubahan |
|---|---|---|
| Total kredit | Rp 1.035,6 triliun | Naik 8% yoy |
| Kredit korporasi | Rp 513,4 triliun | Naik 13,6% yoy |
| CASA | Rp 1.082,3 triliun | Naik 10,2% yoy |
| Laba bersih | Rp 29,5 triliun | Naik 1,8% yoy |
Pendanaan Murah Tetap Bertumbuh
Dana giro dan tabungan atau CASA BCA tercatat Rp 1.082,3 triliun pada semester pertama 2026. Nilainya tumbuh 10,2% secara tahunan, walaupun total simpanan melemah secara kuartalan.
Pertumbuhan CASA memberi dukungan terhadap kekuatan pendanaan BCA. Faktor ini juga menjadi perhatian karena persaingan penghimpunan dana berpotensi memengaruhi biaya dana perbankan.
Kualitas aset BCA masih terkendali dengan rasio NPL bruto 1,9%. Sementara itu, rasio kredit berisiko atau LAR berada pada 4,9%.
Target Harga dan Risiko
Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga BBCA Rp 8.075 untuk 12 bulan. Target tersebut dihitung melalui kombinasi pendekatan P/BV dan DDM.
Dasar penilaiannya mencakup ketahanan laba, pertumbuhan dana murah, dan perbaikan kredit korporasi. Namun, target itu tetap berhadapan dengan risiko tekanan NIM, perlambatan kredit, serta persaingan perebutan dana.
Investor juga perlu memantau kemungkinan kenaikan biaya kredit dan memburuknya kualitas aset. Kemampuan BCA menjaga kredit, CASA, dan kualitas pembiayaan akan menjadi faktor penting bagi kinerja sahamnya berikutnya.






