ALVA dan Gesits disebut sebagai produk motor listrik yang akan masuk dalam skema insentif pemerintah yang sedang dimatangkan. Dukungan ini menjadi sorotan setelah penjualan motor listrik nasional turun pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan anggaran kebijakan tersebut pada dasarnya telah tersedia dan mendapat persetujuan Presiden. Meski begitu, pemerintah belum menguraikan rincian teknis penyaluran insentifnya.
Dua merek lokal yang disebut pemerintah
Airlangga menyampaikan keterangan itu setelah Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Jakarta. Ia menyebut dua nama ketika menjelaskan produk yang terkait dengan kebijakan insentif.
“Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits,” kata Airlangga. Pernyataan tersebut dikutip oto.detik.com dari Antara.
| No. | Merek | Status dalam Pernyataan Pemerintah |
|---|---|---|
| 1 | ALVA | Disebut sebagai salah satu produk penerima insentif |
| 2 | Gesits | Disebut sebagai produk lain penerima insentif |
Penyebutan dua merek produksi dalam negeri ini muncul ketika pemerintah berupaya memperbesar pasar kendaraan listrik nasional. Insentif dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mendorong keputusan pembelian masyarakat.
Bantuan pembelian pernah mengerek penyaluran
Program bantuan pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda dua pada 2023 dan 2024 melibatkan 22 industri serta 70 tipe atau model. Dalam periode tersebut, penyaluran bantuan tercatat meningkat tajam.
Pada 2023, bantuan tersalurkan untuk 11.532 unit motor listrik. Jumlah itu melonjak menjadi 62.541 unit pada 2024 atau meningkat sekitar 442 persen dalam setahun.
| Tahun | Penyaluran Bantuan | Catatan |
|---|---|---|
| 2023 | 11.532 unit | Awal pelaksanaan program |
| 2024 | 62.541 unit | Naik sekitar 442 persen |
| Kumulatif | 74.073 unit | Total penerima bantuan |
Data penyaluran tersebut memperlihatkan besarnya respons pasar saat bantuan pembelian tersedia. Karena itu, keberlanjutan dukungan dinilai relevan ketika penjualan motor listrik belum bergerak stabil.
Penjualan motor listrik naik dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023. Angka itu kembali meningkat menjadi 77.078 unit pada 2024 sebelum turun ke 55.059 unit pada 2025.
Industri menunggu permintaan mengejar kapasitas
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan Indonesia memiliki 69 perusahaan kendaraan listrik roda dua dan roda tiga. Kapasitas produksinya mencapai 2,511 juta unit per tahun dengan investasi sekitar Rp1,2 triliun.
Di luar segmen tersebut, terdapat 14 perusahaan kendaraan listrik roda empat dengan kapasitas 409.860 unit per tahun. Ada pula 10 perusahaan kendaraan komersial listrik dengan kapasitas 7.500 unit per tahun.
| Segmen | Perusahaan | Kapasitas per Tahun |
|---|---|---|
| Roda dua dan tiga | 69 | 2,511 juta unit |
| Roda empat | 14 | 409.860 unit |
| Kendaraan komersial | 10 | 7.500 unit |
Total investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional mencapai sekitar Rp30,468 triliun. Agus menilai fondasi manufaktur sudah tersedia, tetapi pemakaian kapasitas pabrik dan pendalaman komponen lokal harus terus ditingkatkan.
Arah tersebut juga dikaitkan dengan peluncuran Motor Listrik Nasional atau MoLiNas di fasilitas ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Presiden Prabowo Subianto meninjau proses produksi dan menandatangani plakat produksi ALVA sebanyak 20 ribu unit dalam kegiatan itu.






