Kristal zirkon berukuran mikroskopis dalam muatan kapal Batavia membantu ilmuwan menelusuri asal batu pasir yang tenggelam pada 1629. Penelitian ini menunjukkan bahan bangunan VOC kemungkinan datang dari lebih dari satu wilayah di Jerman modern.
Bukti tersebut penting karena catatan tertulis mengenai perjalanan batu tidak lagi tersedia secara lengkap. Geologi justru mengisi celah sejarah dan memperlihatkan jaringan pengadaan bahan yang melintasi Eropa sebelum kapal berlayar ke Asia.
Mineral sebagai Penanda Asal Batu
Menurut studi dalam Journal of Archaeological Science, zirkon dapat digunakan untuk menilai usia serta asal pembentukan batuan. Mineral ini tahan lama sehingga menyimpan karakter geologis dari wilayah sumber batu pasir.
Analisis atas balok-balok dari bangkai Batavia mengarah pada sedikitnya dua tambang berbeda. Bentheim dan Obernkirchen menjadi dua wilayah yang diduga menjadi sumber bahan, dengan jarak sekitar 144 kilometer.
| Wilayah | Temuan Geologis | Arti bagi Penelitian |
|---|---|---|
| Bentheim | Diduga menjadi salah satu sumber batu pasir | Menunjukkan pengadaan dari wilayah Jerman modern |
| Obernkirchen | Diduga menjadi sumber batu pasir lain | Menunjukkan muatan berasal dari lebih dari satu lokasi |
Temuan dua sumber itu memperlihatkan bahwa VOC tidak hanya mengandalkan satu pemasok. Batu-batu tersebut kemungkinan dikumpulkan dari beberapa tempat sebelum memasuki jalur distribusi perdagangan yang lebih luas.
Para peneliti menduga muatan kemudian dibawa ke pusat perdagangan VOC, kemungkinan Amsterdam. Di kota itu, bahan bangunan tersebut dipersiapkan dan dirakit sebelum diangkut melalui laut menuju Batavia.
Balok Ukiran yang Kehilangan Tujuan
Muatan yang ditemukan mencakup balok batu pasir besar, sebagian di antaranya telah memiliki ukiran. Batu itu diduga diperuntukkan bagi pembangunan gerbang atau serambi di Batavia, pusat kolonial Belanda di Hindia Timur.
Rencana itu gagal setelah kapal Batavia menghantam karang pada dini hari 4 Juni 1629. Kapal tersebut karam di Kepulauan Houtman Abrolhos, lepas pantai Australia Barat, bersama muatan bahan bangunannya.
Anthony Clarke dari Curtin University menyebut temuan tersebut menggambarkan kerumitan logistik VOC. Sistem itu melibatkan penambang, pemotong batu, pengangkut sungai, pedagang, dan pelaut dalam rantai perdagangan jarak jauh.
Clarke dan Chris Kirkland menilai bukti geologi menunjukkan jaringan yang “canggih dan terkoordinasi” di Eropa barat laut. Penilaian itu didasarkan pada jejak batu yang berasal dari lokasi berbeda tetapi berakhir dalam satu muatan kapal.
Tragedi di Kepulauan Houtman Abrolhos
Batavia berangkat dari Belanda pada 29 Oktober 1628 dalam armada yang menuju Asia. Kapal bertiang tiga itu menjalani pelayaran perdana dengan 341 penumpang dan awak di dalamnya.
Sekitar 300 orang yang selamat dari karam berhasil mencapai pulau-pulau terdekat. Francisco Pelsaert kemudian berlayar dengan perahu panjang bersama 40 pelaut dan perwira untuk mencari bantuan ke Batavia.
Perjalanan Pelsaert mencapai sekitar 2.993 kilometer dari lokasi karam. Saat ia tidak berada di kepulauan itu, perwira junior Jeronimus Cornelisz mengambil alih kendali atas para penyintas.
Cornelisz dan kelompoknya melakukan kekerasan terhadap para penyintas, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, perbudakan, serta pengusiran. Kapal penyelamat yang tiba setelah sekitar tujuh minggu akhirnya menghentikan pembantaian tersebut.
Cornelisz bersama enam pengikutnya digantung di Long Island pada Oktober 1629. Pemberontak lainnya dibawa ke Batavia untuk dieksekusi, sementara bangkai kapal itu baru ditemukan kembali pada 1963.
Sejumlah artefak dari Batavia kini berada dalam koleksi Western Australian Museum. Di antara peninggalan tragedi itu, batu pasir menjadi bukti bahwa kapal tersebut juga membawa jejak nyata perdagangan dan pembangunan kolonial VOC.






