Gempa M7,7 di utara Pulau Flores tidak hanya memicu ratusan gempa susulan, tetapi juga menimbulkan tsunami hingga 1,61 meter. Gelombang tertinggi tercatat di Reo, wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.
Pemantauan muka air laut juga menemukan kenaikan gelombang di Ende, Bulukumba, dan Sape di Bima. Meski seluruh peringatan dini tsunami telah diakhiri, aktivitas gempa susulan di utara Flores masih terus dipantau.
Catatan Kenaikan Muka Air Laut
Jaringan pengukur muka air laut mendeteksi tsunami hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Catatan di sejumlah titik menunjukkan bahwa dampak gempa menjangkau wilayah pesisir di luar Flores.
| Wilayah | Ketinggian Tercatat |
|---|---|
| Reo, Manggarai dan Manggarai Timur | Hingga 1,61 meter |
| Maurole, Ende | 0,94 meter |
| Bulukumba | Lebih dari 0,5 meter |
| Sape, Bima | Lebih dari 0,5 meter |
Maurole di Ende mencatat tinggi tsunami 0,94 meter. Sementara itu, Bulukumba dan Sape, Bima, mencatat kenaikan muka air lebih dari 0,5 meter.
BMKG mengakhiri semua peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut telah kembali aman.
235 Gempa Susulan Masih Tercatat
Hingga Sabtu (15/8) pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan setelah gempa utama M7,7. Kekuatan gempa susulan berada pada rentang M2,5 hingga M6,2.
Seluruh rangkaian susulan itu tersebar di sebelah utara Pulau Flores. BMKG menyatakan aktivitas tersebut belum menunjukkan tren peluruhan yang jelas berdasarkan grafik pemantauan yang tersedia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan proses penurunan aktivitas gempa secara alami dapat berlangsung dua hingga tiga pekan. “BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” katanya pada Sabtu (15/8).
Karakter Gempa Dangkal
Gempa utama terjadi pada kedalaman 15 kilometer dan dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Kedalaman yang relatif dangkal membuat potensi dampak fisik terhadap bangunan dan infrastruktur menjadi lebih besar.
Sesar Flores memiliki catatan sebagai sumber gempa merusak di kawasan tersebut. Pada 1992, kawasan ini pernah mengalami gempa M7,8 yang terjadi pada kedalaman 28 kilometer.
Gempa susulan merupakan bagian dari penyesuaian struktur sesar setelah gempa utama terjadi. Karena proses stabilisasi membutuhkan waktu, aktivitas seismik tidak langsung berakhir setelah guncangan utama berlalu.
BMKG tetap memantau perkembangan gempa susulan serta kondisi muka laut di wilayah terdampak. Perhatian terhadap karakter Sesar Flores dinilai penting, terutama karena gempa kali ini terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal.






