Survei Ketat dan Konflik Gaza Membuat Trump Belum Mau Pasang Badan untuk Netanyahu

Belum adanya dukungan resmi Donald Trump menjadi persoalan yang diperhitungkan Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel. Keraguan itu muncul bersamaan dengan perselisihan mereka mengenai Gaza, Iran, dan Lebanon.

Dua pejabat senior yang dikutip Axios menyebut posisi Netanyahu dalam survei sebagai salah satu pertimbangan Trump untuk tidak segera menyatakan dukungan. Pemimpin Amerika Serikat itu disebut ingin menilai lebih jauh peluang politik sekutunya tersebut.

Trump bahkan dilaporkan memberi penilaian keras terhadap perdana menteri Israel itu. Menurut dua sumber yang pernah berbicara langsung dengannya, Trump berkata, “Bibi adalah musuh terburuk bagi dirinya sendiri.”

Bibi merupakan panggilan yang lazim digunakan untuk Netanyahu. Kritik tersebut menunjukkan bahwa kedekatan personal kedua tokoh tidak menghapus ketegangan dalam pembicaraan mengenai kebijakan kawasan.

Gaza Menjadi Titik Perbedaan Utama

Perbedaan paling jelas terlihat dalam pembahasan masa depan Jalur Gaza. Trump sebelumnya menyatakan terdapat kemajuan dalam rencana perdamaian yang berisi proposal 15 poin.

Rencana itu memuat penarikan pasukan Israel dari Gaza dan pelucutan senjata Hamas. Netanyahu menolak peta jalan tersebut karena Israel tidak ingin menarik pasukan tanpa proses pelucutan senjata yang benar-benar nyata.

Perbedaan pandangan juga dilaporkan mencakup pendekatan Washington terhadap Iran dan operasi militer Israel di Lebanon. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump dan Netanyahu disebut beberapa kali berseberangan dalam isu-isu itu.

Trump bahkan dikabarkan pernah memarahi Netanyahu hingga menggunakan kata kasar ketika keduanya tidak sejalan. Di sisi lain, Netanyahu dalam rapat kabinet menegaskan Israel mengetahui cara mempertahankan posisinya, termasuk saat berhadapan dengan sahabat terbaiknya.

Persaingan Politik Netanyahu

Ketegangan kebijakan tersebut terjadi ketika posisi Netanyahu dalam politik domestik Israel tidak sepenuhnya aman. Partai Likud yang dipimpinnya menghadapi kompetisi dari Yashar, partai yang dipimpin Gadi Eisenkot.

Kekuatan PolitikPemimpinPosisi dalam Survei
Likud dan blok koalisiBenjamin NetanyahuDiperkirakan meraih sekitar 50 dari 120 kursi parlemen
YasharGadi EisenkotSejumlah survei menempatkannya di depan Likud

Sejumlah jajak pendapat menempatkan Yashar di depan Likud dan menilai partai Eisenkot lebih berpeluang membentuk pemerintahan. Gambaran tersebut kontras dengan klaim seorang ajudan Netanyahu yang menyatakan pemimpin Likud itu berada di posisi unggul.

Menurut laporan The Times of Israel yang mengutip Axios, Trump menanyakan langsung peluang kemenangan Netanyahu saat kunjungan ke Washington bulan lalu. Netanyahu disebut sempat ragu ketika menjawab pertanyaan mengenai elektabilitasnya.

Pada Juni, Trump pernah mengatakan kemungkinan besar akan mendukung Netanyahu. Namun, ia menyatakan ingin mengetahui lebih dahulu siapa lawan yang akan dihadapi Netanyahu dalam pemilihan.

Oposisi Meminta Washington Netral

Ketidakpastian sikap Trump membuat kubu oposisi ikut bergerak. Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, dan Yair Lapid dilaporkan menyampaikan pesan melalui jalur informal kepada lingkaran dekat Trump agar Amerika Serikat tidak berpihak.

Mereka mencermati kemungkinan dukungan Trump berubah menjelang pemilu Israel pada Oktober. Kekhawatiran itu didasari rekam jejak Trump yang pernah mendukung sekutu politiknya dalam pemilihan di berbagai negara.

Bagi Netanyahu, dukungan terbuka dari Gedung Putih dapat menjadi aset politik, tetapi belum tentu diberikan dalam waktu dekat. Selama perselisihan soal kebijakan regional dan peta survei masih berlangsung, posisi Trump akan tetap menjadi variabel penting dalam persaingan Israel.

Baca Juga