Stunting Tak Hanya Membuat Anak Pendek, Ini 4 Upaya Pencegahan Sejak Dini

Stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari ukuran seharusnya. Kondisi ini juga dapat berdampak pada perkembangan otak serta kemampuan kognitif dan motorik.

Risiko tersebut menjadi perhatian ketika Presiden Prabowo Subianto menyebut satu dari empat anak Indonesia mengalami stunting. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Memahami ukuran stunting

World Health Organization atau WHO mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan pendek atau sangat pendek berdasarkan tinggi badan menurut usia. Ukurannya berada di bawah minus 2 standar deviasi dalam kurva pertumbuhan WHO.

Pengukuran tersebut menunjukkan bahwa stunting tidak cukup dikenali hanya dengan membandingkan penampilan anak. Pertumbuhan anak perlu dipantau secara berkala untuk melihat kesesuaiannya dengan usia.

Anak dengan stunting dapat memiliki tinggi badan lebih pendek daripada anak lain seusianya. Berat badan yang lebih rendah, keterlambatan pertumbuhan tulang, dan proporsi tubuh yang tampak lebih kecil juga dapat menjadi tanda yang diperhatikan.

Kondisi ini umum dialami anak-anak di berbagai negara dan dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi atau infeksi. Karena dampaknya dapat menjangkau perkembangan anak, pencegahan perlu mendapat perhatian sejak awal kehidupan.

4 upaya yang dapat dijaga

No.Upaya PencegahanPenerapan
1ASI eksklusifDiberikan hingga bayi berusia 6 bulan.
2MPASI bergiziMengandung gizi dan protein hewani.
3Kunjungan posyanduDilakukan secara periodik untuk memantau pertumbuhan.
4Tablet tambah darahDikonsumsi secara rutin.

1. Memberikan ASI eksklusif

ASI eksklusif diberikan hingga bayi berusia 6 bulan sebagai salah satu langkah pencegahan. Pemenuhan kebutuhan anak pada periode awal ini menjadi bagian dari perhatian terhadap pertumbuhan.

Setelah bayi melewati usia tersebut, kebutuhan gizinya perlu didukung melalui makanan pendamping ASI. Peralihan ini menempatkan kualitas makanan sebagai hal yang perlu dijaga.

2. Menyediakan MPASI bergizi

MPASI perlu diberikan dalam bentuk makanan bergizi yang mengandung protein hewani. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya mendukung kebutuhan nutrisi anak setelah masa ASI eksklusif.

Kekurangan nutrisi menjadi salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan stunting. Karena itu, perhatian terhadap asupan makanan tidak berhenti setelah anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI.

3. Membawa anak ke posyandu

Kunjungan ke posyandu secara periodik diperlukan untuk memantau perkembangan anak. Pemantauan tersebut membantu memastikan pertumbuhan anak terus diperhatikan.

Tinggi badan menurut usia menjadi dasar penting dalam mengenali stunting. Kurva pertumbuhan WHO digunakan untuk melihat apakah ukuran tinggi anak berada pada rentang yang sesuai.

4. Mengonsumsi tablet tambah darah

Tablet tambah darah perlu dikonsumsi secara rutin sesuai langkah pencegahan yang disebutkan. Tindakan ini dilaksanakan bersama pemenuhan nutrisi dan pemantauan pertumbuhan anak.

Keempat upaya tersebut tidak berdiri sendiri dalam menghadapi persoalan stunting. ASI eksklusif, MPASI bergizi, tablet tambah darah, dan kunjungan posyandu saling melengkapi dalam perhatian terhadap tumbuh kembang anak.

Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa dampak stunting dapat meluas pada perkembangan otak, kognitif, dan motorik. Perhatian rutin terhadap pertumbuhan anak menjadi penting mengingat persoalan ini menyangkut masa depan anak-anak Indonesia.

Baca Juga