Rekaman 17 Juta Penonton Mengungkap Kelas Kayu yang Masih Dipakai Murid di Enrekang

Rekaman siswa sekolah dasar bergelantungan pada rangka atap kelas di Enrekang telah ditonton lebih dari 17 juta kali di Instagram. Di balik tingkah lincah anak-anak itu, tiga ruang belajar di sekolah tersebut masih berbahan kayu papan.

Video itu juga mendapat sekitar satu juta tanda suka. Perhatian publik kemudian tertuju pada kondisi ruang belajar dan akses menuju SDN 188 Nating di Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang.

Unggahan tersebut dibuat oleh Afrizal Adi Prayoga, guru muda yang mengajar di sekolah itu melalui akun Instagram @afrizaladii. Afri merekam kejadian tersebut ketika sedang mengajar.

Kepada detikEdu, ia menjelaskan bahwa anak-anak di sekolah tersebut sangat aktif dan terbiasa banyak bergerak. Ia sempat keluar menuju kelas di sebelah, lalu mendapati sejumlah murid telah bergelantungan saat kembali.

Beberapa siswa lain bahkan masih memanjat rangka kelas ketika Afri memasuki ruangan. “Kronologinya itu karena ditinggal ke kelas sebelah, jadi pas saya masuk sudah pada gelantungan dan ada yang baru manjat,” ujarnya.

Afri mengatakan murid-murid telah diingatkan agar berhati-hati sebelum momen itu direkam. Setelah itu, anak-anak turun dari rangka atap dengan lincah.

Bangunan Kayu Masih Digunakan

SDN 188 Nating berada di kawasan bawah kaki Gunung Latimojong, wilayah dataran tinggi di Enrekang. Sekolah itu memiliki bangunan kelas permanen, tetapi sebagian fasilitasnya masih berupa konstruksi kayu.

Jenis FasilitasJumlahKondisi
Kelas permanen3Memperoleh revitalisasi pembangunan
Kelas kayu papan3Masih dipakai untuk belajar
Perpustakaan kayu1Berbahan kayu
ToiletTersediaFasilitas sekolah yang sudah ada

Tiga ruang kelas permanen memperoleh bantuan revitalisasi dari Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan sekolah. Namun, tiga kelas kayu dan satu perpustakaan kayu masih menjadi bagian dari sarana pendidikan di lokasi tersebut.

Kondisi alam ikut membentuk keseharian murid di sekolah itu. Suhu pada pagi hari dapat mencapai 11 derajat Celsius, sehingga aktivitas fisik menjadi salah satu cara anak-anak menghangatkan tubuh.

Selama kurang lebih tiga bulan mengajar, Afri melihat kemampuan kinestetik para siswa cukup kuat. Minat pada aktivitas bergerak juga tampak dari kegemaran warga terhadap permainan voli dan sepak takraw.

Jalan Panjang Menuju Ruang Belajar

Tantangan sekolah tidak berhenti pada kondisi bangunan. Sejumlah siswa dari Dusun Katabi harus berjalan kaki 30 hingga 40 menit setiap hari untuk mencapai sekolah.

Dusun tersebut berada di kawasan ujung jalur pendakian Gunung Latimojong. Saat musim hujan, perjalanan menjadi lebih sulit karena akses jalan masih terbatas.

Guru yang bertugas di sekolah itu juga perlu melewati jalan tanah menanjak. Kondisi akses tersebut menunjukkan bahwa kegiatan belajar berlangsung di tengah hambatan geografis yang nyata.

Afri menjadi bagian dari Program Pijar atau Pergi Mengajar yang dijalankan CT ARSA Foundation. Dalam penugasannya sebagai Guru Muda, ia mengabdi selama satu tahun di wilayah tersebut.

Program itu mengirim guru ke 27 titik daerah pelosok di Indonesia. Bagi Afri, pengalaman di Enrekang memperlihatkan ketekunan anak-anak untuk tetap hadir di sekolah meski perjalanan dan fasilitas belajar belum sepenuhnya mudah.

Baca Juga