Pekerjaan administrasi menjadi kelompok jabatan terbesar bagi lulusan minimal S1 yang dinilai bekerja di bawah kualifikasinya. Sebanyak 31 persen dari kelompok lulusan overeducated tercatat berada pada posisi tenaga tata usaha.
Kelompok usaha jasa dan penjualan menyusul dengan porsi 29,6 persen. Dua jalur kerja tersebut memperlihatkan besarnya penyerapan sarjana pada pekerjaan yang tersedia luas di berbagai sektor ekonomi.
| Kelompok jabatan | Porsi lulusan S1 overeducated | Gambaran pekerjaan |
|---|---|---|
| Tenaga tata usaha | 31 persen | Administrasi di berbagai sektor |
| Tenaga usaha jasa dan penjualan | 29,6 persen | Pelanggan, penjualan, pelayanan, keamanan, dan jasa |
Posisi tata usaha kerap menjadi pintu masuk ke dunia kerja bagi lulusan baru. Rekrutmen untuk pekerjaan ini juga relatif terbuka bagi lulusan dari berbagai bidang studi.
Di sisi lain, pekerjaan jasa dan penjualan tidak selalu dipilih hanya sebagai pekerjaan sementara. Sebagian lulusan dapat bertahan karena adanya pendapatan, komisi, fleksibilitas, maupun peluang promosi yang ditawarkan.
Jumlahnya mencapai 8,01 juta lulusan
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mencatat sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 bekerja pada kelompok jabatan tertentu. Penghitungan itu menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Badan Pusat Statistik tahun 2025.
Kelompok jabatan yang menjadi perhatian mencakup KBJI 3 sampai KBJI 9. Rentangnya dimulai dari teknisi dan tenaga profesional madya hingga pekerja kasar.
KBJI atau Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia digunakan untuk mengelompokkan pekerjaan berdasarkan jenis tugas dan tingkat keterampilan. Klasifikasi satu digitnya terdiri atas 10 kelompok utama.
| Kelompok KBJI | Jenis jabatan |
|---|---|
| 1-2 | Manajer dan tenaga profesional |
| 3-5 | Teknisi, tenaga tata usaha, serta jasa dan penjualan |
| 6-9 | Pekerja pertanian, pengolahan, operator, hingga pekerja kasar |
| 10 | Tentara Nasional Indonesia |
Status bekerja tidak selalu berarti sesuai pendidikan
Pengangguran hanya mencatat orang yang belum mendapatkan pekerjaan. Indikator ini tidak menunjukkan pekerja yang sudah memperoleh penghasilan, tetapi bekerja pada posisi yang tidak membutuhkan jenjang pendidikan setara dengan gelarnya.
LPEM FEB UI memakai kriteria yang dikembangkan ILO untuk melihat ketidaksesuaian tersebut. Pendekatan ini membuat gambaran mengenai posisi lulusan di pasar kerja menjadi lebih luas dibandingkan sekadar tingkat pengangguran.
Fenomena overeducated tidak otomatis berarti seluruh lulusan tersebut tidak memiliki prospek karier. Data yang tersedia hanya memperlihatkan jabatan responden saat Sakernas dilakukan.
Dengan demikian, belum dapat diketahui apakah seorang lulusan akan berpindah ke pekerjaan yang lebih sesuai atau bertahan pada posisinya dalam jangka panjang. Namun, tingginya porsi di sektor jasa dan penjualan menunjukkan bahwa ketersediaan pekerjaan yang sesuai tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Hampir tiga dari 10 lulusan dalam kategori tersebut bekerja pada jasa dan penjualan. Angka itu menempatkan struktur kesempatan kerja sebagai bagian penting dalam pembahasan ketidaksesuaian pendidikan dan jabatan.






