Pasar motor listrik di Indonesia baru menyerap sekitar 60.000 hingga 70.000 unit per tahun, padahal pembelian motor baru mencapai 6 juta sampai 7 juta unit. Kesenjangan ini menjadi latar penting di balik komitmen James Riady untuk membeli 20.000 unit motor listrik.
Komitmen tersebut berpotensi memberi tambahan permintaan yang berarti bagi industri roda dua listrik nasional. Pada saat yang sama, Danantara Indonesia menyiapkan pembiayaan dengan bunga lebih rendah, tenor lebih panjang, serta target pengurangan hingga penghapusan DP.
Potensi Pasar Masih Sangat Lebar
Rosan Perkasa Roeslani, CEO Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, menilai ruang pertumbuhan kendaraan listrik roda dua masih terbuka lebar. Populasi sepeda motor nasional telah mencapai sekitar 140 juta unit.
Namun, motor listrik baru mengambil porsi sekitar 1 persen dari pembelian motor tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar tidak hanya memerlukan produk, tetapi juga skema transaksi yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
| Ukuran Pasar | Angka | Makna |
|---|---|---|
| Populasi sepeda motor | ±140 juta unit | Basis pengguna roda dua nasional |
| Pembelian motor baru | 6-7 juta unit per tahun | Volume pasar tahunan |
| Motor listrik terserap | ±60-70 ribu unit per tahun | Setara sekitar 1 persen |
| Nilai pasar motor listrik | US$170 miliar | Estimasi yang disampaikan Rosan |
Rosan menyebut nilai pasar motor listrik dapat mencapai US$170 miliar. Angka tersebut memperlihatkan peluang ekonomi yang ingin dikejar melalui penguatan industri dan peningkatan penyerapan di dalam negeri.
Pembiayaan Menjadi Kunci
Danantara melihat uang muka sebagai salah satu hambatan pada tahap awal pembelian. Nilai DP disebut masih berada di kisaran 10 persen, sehingga pengurangannya dinilai dapat membuat motor listrik lebih mudah diakses.
Rosan mengatakan skema pembiayaan akan diupayakan dengan bunga yang lebih rendah dan masa cicilan lebih panjang. Target akhirnya adalah menurunkan, bahkan menghapuskan, uang muka pembelian motor listrik.
Perubahan pembiayaan ini diarahkan untuk mendukung pertumbuhan permintaan, bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi. Tanpa pasar yang cukup besar, pengembangan ekosistem kendaraan listrik akan sulit mencapai skala yang diharapkan.
James Riady Menyatakan Komitmen
Komitmen pembelian 20.000 unit disampaikan dalam peresmian Motor Listrik Nasional atau Molinas di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (13/8). Rosan menyebut James Riady dari Grup Lippo sebagai pihak yang memiliki lahan lokasi proyek tersebut.
“Yang mempunyai lahan Pak James Riady dari Lippo yang tadi sempat bicara komitmen untuk beli 20.000 motor listrik,” ujar Rosan. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato peresmian dan mendapat tepuk tangan dari peserta acara.
Menurut CNN Indonesia, peresmian Molinas berlangsung di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group atau ALVA. Proyek tersebut mempertemukan pemerintah, badan usaha milik negara, dan pengusaha nasional dalam pengembangan motor listrik dalam negeri.
Dari Baterai sampai Layanan Purnajual
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Molinas dirancang sebagai ekosistem yang mencakup lebih dari manufaktur kendaraan. Program ini meliputi komponen, baterai, pengisian daya, battery swapping, pembiayaan, distribusi, hingga layanan purnajual.
PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator untuk menghubungkan berbagai elemen pengembangan tersebut. Tugasnya diarahkan untuk menyatukan kebutuhan industri dari rantai pasok sampai perluasan penyerapan pasar.
Sekitar 10 perusahaan nasional disebut telah memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri dari Kementerian Perindustrian. CTO Danantara Sigit Puji Santosa juga memimpin proyek yang ditujukan untuk mendorong standardisasi internasional.
Danantara mendorong baterai berbasis nikel agar rantai produksi domestik semakin kuat, dari pengolahan bahan hingga battery pack. Indonesia disebut memiliki sekitar 46 persen cadangan nikel dunia, sementara pemanfaatan energi listrik diharapkan mengurangi ketergantungan pada BBM impor.






