Insentif untuk Motor Listrik Nasional atau Molinas dapat membuat kendaraan roda dua listrik lebih mudah dijangkau. Di kota besar, kebijakan itu justru berisiko menambah motor di jalan jika pembeli tidak menggantikan kendaraan lama.
Pengurangan kemacetan tidak cukup dilakukan dengan mengganti bahan bakar bensin menjadi listrik. Penguatan angkutan umum massal tetap menjadi faktor utama untuk menekan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
Elektrifikasi Bukan Jawaban Tunggal untuk Macet
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai dominasi motor di perkotaan sudah sangat besar. Sekitar 75 persen hingga 80 persen kendaraan di wilayah perkotaan saat ini masih didominasi sepeda motor.
Dalam kondisi tersebut, tambahan kepemilikan motor listrik dapat memperbesar tekanan terhadap ruang jalan. Motor listrik memang mengalihkan sumber emisi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tetapi tidak mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak bersamaan.
Menurut Djoko, perbedaan dampak muncul dari tujuan pembelian kendaraan tersebut. Motor listrik yang menggantikan motor lama memiliki fungsi berbeda dengan motor listrik yang menjadi kendaraan tambahan.
“Jika masyarakat membeli motor listrik hanya sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau beralih ke angkutan umum, ruang jalan akan semakin padat,” kata Djoko kepada Kompas.com. Ia menempatkan distribusi Molinas sebagai persoalan transportasi sekaligus kebijakan industri.
| Kebijakan | Sasaran Utama | Dampak bila Tidak Terarah |
|---|---|---|
| Potongan harga motor listrik | Mendorong keterjangkauan kendaraan | Jumlah kendaraan pribadi meningkat |
| Penggantian motor lama | Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil | Motor lama berpotensi tetap dipakai |
| Elektrifikasi angkutan umum | Menekan emisi dan penggunaan kendaraan pribadi | Kepadatan lalu lintas tetap tinggi |
Angkutan Umum Perlu Menjadi Prioritas
Djoko menilai transportasi umum massal harus diperkuat untuk mengurai kemacetan perkotaan. Penggunaan armada angkutan umum listrik juga dapat menyatukan agenda penurunan emisi dengan perbaikan mobilitas warga.
Pendekatan ini membuat transisi energi tidak berhenti pada perubahan teknologi kendaraan. Kebijakan dapat diarahkan untuk mengurangi kebutuhan perjalanan pribadi di kawasan dengan lalu lintas padat.
Molinas tetap memiliki nilai penting bagi upaya elektrifikasi kendaraan nasional. Namun, program tersebut membutuhkan segmentasi yang membedakan kebutuhan kota besar dan wilayah dengan tantangan distribusi bahan bakar.
Pasar Daerah Memiliki Kebutuhan Berbeda
Wilayah perdesaan, perbatasan, pulau-pulau kecil, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar dinilai lebih potensial untuk penetrasi motor listrik. Warga dan kegiatan operasional di daerah tersebut dapat memperoleh efisiensi biaya bahan bakar maupun logistik.
Kawasan mineral di luar Jawa juga disebut sebagai pasar yang dapat dikembangkan. Morowali, Konawe, Halmahera, Luwu Timur, sejumlah wilayah Kalimantan, hingga Papua masuk dalam contoh daerah potensial.
Agats di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, memperlihatkan penggunaan kendaraan listrik dalam kondisi distribusi bahan bakar minyak yang menantang. Kota tersebut mulai beralih menggunakan kendaraan listrik sejak 2007.
| Wilayah Sasaran | Alasan Potensial |
|---|---|
| Perdesaan dan perbatasan | Berpeluang menghemat biaya bahan bakar dan logistik |
| Pulau kecil dan daerah 3T | Menghadapi tantangan distribusi bahan bakar |
| Kawasan mineral di luar Jawa | Berpotensi mendukung mobilitas dan operasional daerah |
| Agats, Kabupaten Asmat | Mulai memakai kendaraan listrik sejak 2007 |
Industri Nasional Masih Membutuhkan Dukungan
Molinas juga dipandang berpeluang memperkuat industri otomotif nasional di tengah dominasi produk impor. Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi dapat mengembangkan kapasitas sebagai produsen kendaraan listrik.
Djoko menilai insentif pemerintah diperlukan pada tahap awal untuk memberi kesempatan bagi industri nasional membangun teknologi dan rantai pasok. Dukungan tersebut perlu terarah agar pelaku industri dapat tumbuh sebelum mampu bersaing secara mandiri.
Keberhasilan Molinas bergantung pada cara program ini ditempatkan dalam kebijakan yang lebih luas. Penggantian motor lama, pengembangan pasar daerah, dan perbaikan angkutan umum perlu berjalan seiring agar manfaat lingkungan tidak berakhir sebagai tambahan kemacetan.






