Industri menara telekomunikasi didorong memasuki fase transformasi ketika pendapatan dari sewa tower dan pasokan daya listrik tidak lagi cukup diandalkan. Mastel melihat fiberisasi serta pengelolaan layanan BTS sebagai peluang baru di tengah pasar operator yang semakin terkonsolidasi.
Tekanan utama datang dari pertumbuhan penyewaan menara fisik yang secara spasial dinilai cenderung stagnan. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan terhadap penyewaan tower bahkan berpotensi berkurang.
Portofolio Baru untuk Pemain Menara
Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno menilai pelaku usaha perlu mengubah perannya dari penyedia infrastruktur pasif menjadi pengelola infrastruktur aktif yang terintegrasi. Perubahan ini mencakup kemampuan membangun dan mengelola konektivitas antar titik infrastruktur.
Jaringan penghubung antar-menara dapat dikembangkan melalui serat optik maupun radio. Mastel menilai bidang tersebut perlu dipersiapkan agar perusahaan menara tidak hanya bergantung pada penyediaan lokasi dan tenaga listrik.
Pengembangan serat optik dipandang sebagai langkah antisipatif terhadap perubahan kebutuhan jaringan. Konektivitas antar-menara dapat memperluas keterlibatan perusahaan dalam ekosistem digital yang lebih menyeluruh.
Pengelolaan layanan BTS melalui skema managed service juga disebut dapat memperluas portofolio. Layanan ini memberi ruang bagi perusahaan menara untuk terlibat lebih jauh dalam kebutuhan operasional jaringan operator.
Konsolidasi Mengubah Peta Kebutuhan
Pasar operator seluler kini berpusat pada TelkomGroup, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart. TelkomGroup mengusung strategi Fixed Mobile Convergence atau FMC, sementara konsolidasi pasar secara umum mengubah kebutuhan infrastruktur operator.
Mastel menyarankan pemain industri menara turut mempertimbangkan konsolidasi. Langkah itu dipandang dapat membantu perusahaan membangun skala dan kemampuan yang dibutuhkan dalam model bisnis konektivitas.
Pengembangan infrastruktur aktif juga semakin relevan karena alokasi spektrum frekuensi bersifat lebih netral. Spektrum tersebut dapat dipakai untuk layanan tetap, layanan seluler, maupun bentuk konvergensi keduanya.
Modul BTS ke depan diproyeksikan makin umum digunakan dan lebih fleksibel, menyerupai perangkat seluler ritel. Perkembangan itu membuat kemampuan mengelola aset fisik saja tidak lagi memadai bagi pemain menara.
Karakter Menara Berbeda dengan FTTH
Mastel menekankan bahwa konsolidasi pada industri menara tidak dapat dibandingkan langsung dengan jaringan Fiber to the Home atau FTTH. Menara dapat terkonsolidasi, sedangkan satu titik FTTH masih dapat memiliki lima sampai sembilan tiang dari pemain yang berbeda.
Perbedaan karakter tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam penataan jaringan broadband dan upaya memperluas akses digital. Pemerintah juga perlu menentukan keseimbangan kebijakan antara kecepatan serta latensi rendah dan keterjangkauan harga internet.
Di lapangan, pembangunan jaringan masih dibayangi biaya efisiensi dan regulasi daerah yang kompleks. Beban perizinan serta proses izin yang rumit kerap memperlambat pembangunan infrastruktur.
Mastel berharap regulator menyusun aturan yang lebih adaptif sekaligus menyederhanakan perizinan. Kemudahan tersebut dinilai penting untuk mendukung peralihan bisnis menara menuju layanan konektivitas yang berkelanjutan.






