Otomatisasi berbasis AI mulai menekan pekerjaan kantoran yang bersifat administratif dan berulang. Kondisi itu membuat sebagian Gen Z menilai keterampilan lapangan dan keahlian teknis sebagai pilihan karier yang lebih menjanjikan.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran dari pekerjaan kantor ke pekerjaan manual. Konstruksi, manufaktur, pengelasan, dan kelistrikan kini semakin terhubung dengan robotika, perangkat digital, serta pembangunan infrastruktur teknologi.
Daftar Peran yang Diproyeksikan Menurun
World Economic Forum melalui laporan Future of Jobs memperkirakan sekitar 83 juta lapangan kerja berisiko hilang pada periode 2023-2027. Lembaga itu juga memperkirakan sekitar 23% pekerjaan di berbagai sektor akan mengalami perubahan.
Tekanan terbesar berpotensi dirasakan oleh fungsi yang mudah didigitalisasi atau diotomatisasi. Media, hiburan, dan olahraga disebut sebagai sektor yang dapat mengalami dampak besar, dengan sekitar 32% pekerjaan berpotensi hilang atau berubah.
Sejumlah pekerjaan yang diproyeksikan menurun mencakup teller bank, petugas pos, kasir dan petugas loket tiket, serta staf entri data. Sekretaris, staf administrasi, staf pencatat stok, dan pekerja akuntansi maupun penggajian juga masuk dalam daftar tersebut.
WEF turut mencantumkan legislator dan pejabat pemerintahan, staf statistik, asuransi, dan keuangan, serta penjual dari pintu ke pintu. Petugas keamanan, manajer kredit dan pinjaman, pemeriksa klaim asuransi, penguji perangkat lunak, serta relationship manager juga disebut menghadapi proyeksi penurunan.
Infrastruktur AI Membutuhkan Tenaga Lapangan
Di saat sejumlah fungsi kantor menghadapi perubahan, pembangunan pusat data untuk layanan AI menciptakan kebutuhan baru. Fasilitas tersebut membutuhkan ribuan GPU, sekaligus sistem listrik, pendingin, konstruksi, dan pemeliharaan yang rumit.
Kebutuhan itu menggerakkan permintaan terhadap pekerja konstruksi, teknisi listrik, mekanik, tukang ledeng, serta teknisi umum. Keahlian tersebut diperlukan sejak tahap pembangunan hingga pusat data beroperasi.
| Keahlian | Imbalan yang Disebutkan | Kebutuhan Industri |
|---|---|---|
| Pengelasan di pabrik baja | US$41-US$52 per jam | Manufaktur baja |
| Teknik listrik | US$240.000-US$280.000 per tahun | Pusat data AI |
| Konstruksi | Premi upah sekitar 32% | Proyek pusat data AS |
Menurut laporan yang dikutip CNBC Indonesia, pekerja konstruksi pada proyek pusat data di Amerika Serikat menerima premi upah sekitar 32% di atas proyek tradisional. Tambahan pendapatan mereka disebut mencapai sekitar US$81.800 per tahun.
Mike Rowe mengungkap pengalamannya bertemu teknisi listrik Gen Z di sebuah pusat data AI di Plano, Texas. Teknisi berusia di bawah 30 tahun tersebut disebut menghasilkan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun, di luar peluang lembur dan tawaran kerja lain.
Instruktur pengelasan Quincy Millerjohn menyebut pekerja pabrik baja dengan keahlian pengelasan dapat memperoleh US$41 hingga US$52 per jam. Data itu menunjukkan bahwa kemampuan praktis dapat bernilai tinggi saat kebutuhan industri meningkat.
Sekolah Mengubah Cara Menyiapkan Lulusan
Pergeseran kebutuhan tenaga kerja mulai mendorong penyesuaian di lingkungan pendidikan Amerika Serikat. Kelas vokasi di bidang konstruksi, manufaktur, pertukangan, dan pengelasan semakin ramai diminati dengan model pembelajaran yang lebih modern.
SMA Middleton mengalokasikan US$90 juta untuk memperbarui laboratorium manufakturnya. Siswa di sekolah itu mempelajari penggunaan lengan robot pintar yang dikendalikan komputer, selain memakai peralatan manual.
Pelajaran konstruksi, manufaktur, dan pertukangan kayu yang pernah populer pada 1990-an hingga 2000-an kembali dimasukkan ke kurikulum. Kelas tersebut disebut telah menarik sekitar 2.300 siswa dalam beberapa tahun terakhir.
Konsultan pendidikan pemerintah negara bagian Wisconsin, John Mihm, melihat adanya perubahan pandangan terhadap pekerjaan tangan. Bagi banyak anak muda, otomatisasi AI bukan hanya ancaman bagi pekerjaan rutin, tetapi juga alasan untuk membangun keahlian yang lebih sulit digantikan algoritma.






